batangkuis.com — Lembaga lingkungan BankHijau Bali kembali menggelar kegiatan kreatif bertema “Daur Kardus Jadi Mainan Edukatif” di SD Negeri 5 Denpasar Barat, Jumat (10/11). Program ini bertujuan menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya mendaur ulang sampah menjadi barang bermanfaat sekaligus mengasah kreativitas anak.
Kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 120 siswa kelas 3 hingga kelas 5. Mereka diajari cara mengubah kardus bekas menjadi mainan edukatif seperti mobil mini, rumah boneka, hingga puzzle alfabet. Para siswa terlihat antusias mengikuti setiap langkah yang dipandu langsung oleh tim edukator lingkungan BankHijau.
“Kami ingin anak-anak melihat bahwa sampah bisa jadi sesuatu yang berguna, bahkan menyenangkan. Dari sini muncul rasa sayang terhadap lingkungan,” ujar Ni Made Pradnyani, koordinator program edukasi BankHijau Bali.
Baca Juga: “EcoHome Bandung Rilis Piring Daur Ulang Serbuk Bambu Lokal“
BankHijau Bali Edukasi Belajar Kreatif Lewat Barang Bekas
Dalam kegiatan ini, siswa membawa kardus bekas dari rumah. Kardus yang sebelumnya dianggap tidak berguna diubah menjadi alat permainan yang dapat menstimulasi logika dan imajinasi.
Para fasilitator membagi siswa menjadi kelompok kecil. Masing-masing kelompok ditugaskan membuat mainan dengan tema tertentu seperti hewan laut, transportasi, dan rumah impian. Setiap kelompok diberi waktu satu jam untuk menyelesaikan karyanya.
“Anak-anak sangat bersemangat. Mereka tidak hanya berkreasi, tapi juga belajar bekerja sama. Dari kegiatan sederhana ini tumbuh nilai-nilai sosial, kepedulian, dan disiplin,” ujar I Gusti Ayu Rahma, guru kelas yang mendampingi kegiatan.
Karya terbaik dipamerkan di aula sekolah dan mendapat penghargaan simbolis berupa Eco Star Badge dari BankHijau.
BankHijau Bali Ungkap Tujuan Program: Edukasi, Daur Ulang, dan Inovasi
BankHijau Bali merancang program ini sebagai bagian dari kampanye “Sekolah Hijau Tanpa Sampah”, yang telah berjalan sejak awal 2024. Fokus utama program adalah mengubah persepsi siswa terhadap limbah rumah tangga.
“Kami tidak ingin edukasi lingkungan hanya berupa ceramah. Anak-anak perlu praktik langsung supaya pesan lebih melekat,” jelas Pradnyani.
Ia menambahkan, dengan kegiatan daur kardus, siswa diajak memahami konsep sirkular ekonomi — di mana barang bekas bisa diolah kembali menjadi sesuatu yang bernilai. Selain itu, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa tanggung jawab pribadi terhadap sampah yang dihasilkan.
Menurut data internal BankHijau, satu sekolah bisa menghasilkan lebih dari 30 kilogram sampah kardus setiap minggu. Melalui program ini, setidaknya 60 persen sampah tersebut berhasil diolah menjadi karya kreatif.
Kolaborasi dengan Sekolah dan Komunitas
Program ini terselenggara berkat kerja sama antara BankHijau, Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar, serta sejumlah komunitas kreatif lokal seperti EcoPlay Studio dan Kreasi Anak Bali.
EcoPlay Studio bertugas memberikan pelatihan desain sederhana agar mainan yang dihasilkan tidak hanya menarik, tapi juga edukatif. “Kami membantu siswa mengenali bentuk geometris dan konsep warna. Tujuannya agar mainan juga punya nilai belajar,” kata Kadek Wirayudha, desainer dari EcoPlay Studio.
Sementara itu, komunitas Kreasi Anak Bali mendampingi siswa membuat mini workshop berisi ide-ide mainan berbahan daur ulang, yang nantinya bisa dijual saat bazar sekolah. Pendapatan dari penjualan akan digunakan untuk membeli alat tulis dan bibit pohon.
Dampak Positif di Lingkungan Sekolah
Kepala sekolah, Ni Luh Eka Suryani, menyebut kegiatan ini membawa dampak positif. Setelah kegiatan berlangsung, siswa mulai membawa botol minum sendiri dan mengumpulkan kardus bekas untuk kegiatan berikutnya.
“Perubahan kecil ini luar biasa. Anak-anak jadi lebih sadar pentingnya memilah sampah dan menjaga kebersihan,” ujarnya.
Selain siswa, orang tua juga diajak terlibat. BankHijau membuka sesi eco-parenting talk untuk berbagi tips mengelola sampah rumah tangga secara kreatif. Banyak orang tua yang kemudian menerapkan konsep yang sama di rumah, seperti membuat rak buku dari kardus atau tempat pensil dari kaleng bekas.
Menuju Generasi Hijau Bali
Program edukasi ini mendapat dukungan langsung dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bali. Menurut Kepala DLH, I Nyoman Sutrisna, kegiatan seperti ini penting untuk membentuk generasi muda yang cinta lingkungan sejak dini.
“Anak-anak hari ini adalah pemimpin masa depan. Kalau sejak kecil mereka terbiasa mendaur ulang dan berpikir kreatif, ke depan mereka akan menjadi generasi yang peduli lingkungan,” katanya.
Ia berharap kegiatan seperti ini bisa diperluas ke sekolah lain di seluruh Bali. DLH menargetkan 100 sekolah dasar ikut serta dalam program edukasi daur ulang hingga pertengahan 2025.
Inovasi dan Harapan ke Depan
BankHijau Bali berencana memperluas kegiatan ini dalam format digital dengan meluncurkan aplikasi “EcoCraft Kids”, di mana siswa bisa berbagi ide mainan daur ulang secara daring.
“Kami ingin terus menumbuhkan budaya daur ulang dengan pendekatan yang menyenangkan dan relevan bagi anak-anak,” kata Pradnyani.
Ia menambahkan, BankHijau akan menggandeng perusahaan daur ulang lokal agar hasil karya siswa bisa diproduksi massal sebagai produk edukatif ramah lingkungan.
“Setiap anak punya imajinasi besar. Kami hanya perlu memberi ruang agar kreativitas itu tumbuh sambil menjaga bumi,” tutupnya.
Dengan semangat kolaborasi antara sekolah, komunitas, dan orang tua, kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana edukasi lingkungan bisa dikemas menarik, praktis, dan berdampak luas bagi generasi muda Bali.
Baca Juga: “IKA ITS berkontribusi dalam penghijauan dan pendidikan lingkungan“











