BlueRiver Manokwari Bersihkan Pantai dari Sampah Mikroplastik

BlueRiver Manokwari
BlueRiver Manokwari

batangkuis.com — Langit pagi di Pantai Wosi, Manokwari, tampak biru cerah ketika puluhan relawan muda dari komunitas BlueRiver Manokwari memulai kegiatan bersih pantai.
Dengan sarung tangan, jaring kecil, dan ember daur ulang, mereka menyusuri garis pantai mengumpulkan potongan plastik mikro berukuran hanya beberapa milimeter.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah terkecil pun bisa berdampak besar bagi laut,” ujar Yosia Rumbrar, koordinator BlueRiver.

Kegiatan bertajuk “Clean the Tiny Threat” ini menjadi bagian dari kampanye nasional melawan polusi mikroplastik di perairan timur Indonesia.
BlueRiver, yang berdiri sejak 2021, berfokus pada riset dan aksi lapangan untuk mengurangi limbah plastik di sungai dan laut Papua Barat.

Baca Juga: “EcoLite Parepare Tawarkan Lampu Rumah Tenaga Surya Portabel


BlueRiver Manokwari Bersihkan Mikroplastik — Ancaman yang Tak Terlihat

Menurut hasil pemantauan BlueRiver bersama Fakultas Perikanan Universitas Papua, setiap 1 liter air laut di Teluk Doreri mengandung rata-rata 3–5 partikel mikroplastik.
Potongan kecil ini berasal dari degradasi botol plastik, kantong sekali pakai, hingga serat pakaian yang terbawa arus sungai.

“Masalahnya, mikroplastik sulit terlihat dan bisa masuk rantai makanan laut,” jelas Dr. Maria Tuharea, peneliti lingkungan yang mendampingi kegiatan tersebut.

Dampak terhadap ekosistem laut:

  • 🐠 Ikan kecil menelan partikel plastik, memengaruhi sistem pencernaannya.
  • 🐢 Penyu dan burung laut sering salah mengira plastik sebagai ubur-ubur.
  • 👩‍⚕️ Akhirnya, manusia ikut mengonsumsi mikroplastik lewat makanan laut.

Data riset BlueRiver 2024 menunjukkan, 70% spesimen ikan yang dijual di pasar Manokwari memiliki jejak mikroplastik di organ pencernaan.


Kolaborasi Relawan BlueRiver Manokwari, Nelayan, dan Pelajar

Kegiatan bersih pantai kali ini melibatkan lebih dari 150 peserta — gabungan dari mahasiswa, komunitas pesisir, hingga nelayan tradisional.
Mereka tidak hanya memungut sampah, tetapi juga menyaring pasir menggunakan saringan logam untuk memisahkan serpihan plastik mikro yang tersembunyi.

“Awalnya kami pikir pantai ini bersih. Tapi setelah disaring, banyak potongan kecil berwarna putih dan biru,” kata Ruben, siswa SMA Negeri 2 Manokwari.

BlueRiver juga mengajarkan peserta cara mengidentifikasi jenis mikroplastik menggunakan kaca pembesar dan mikroskop portabel.
Tujuannya agar masyarakat memahami bentuk ancaman ini secara ilmiah, bukan hanya visual.

Sementara nelayan lokal membantu mengumpulkan jaring rusak dan plastik pelampung yang hanyut dari laut.
Hasil kumpulan kemudian ditimbang dan dicatat untuk bahan laporan ke Dinas Lingkungan Hidup setempat.


BlueRiver Manokwari Dengan Teknologi Lokal untuk Pemantauan Laut

Untuk mendukung risetnya, BlueRiver menggunakan alat pemantau arus dan sensor mikroplastik sederhana buatan mahasiswa Politeknik Negeri Manokwari.
Perangkat itu dipasang di muara sungai kecil yang bermuara ke Teluk Doreri untuk mengukur kepadatan plastik setiap jam.

“Alat ini terbuat dari bahan daur ulang dan tenaga surya, cocok untuk pemantauan berkelanjutan,” ujar Yosia.

Dengan data tersebut, BlueRiver berharap dapat membuat peta sebaran mikroplastik di kawasan pesisir Papua Barat.
Informasi ini nantinya menjadi dasar kebijakan pengelolaan sampah laut berbasis sains.


Edukasi dan Program Sekolah Pesisir

Selain aksi lapangan, BlueRiver menjalankan program edukasi “Sekolah Pesisir Bersih” di tujuh sekolah menengah di Manokwari.
Dalam program ini, siswa diajak membuat “Bank Plastik Mini”, di mana setiap botol atau kantong bekas bisa ditukar dengan alat tulis atau bibit pohon mangrove.

“Anak-anak mulai paham bahwa menjaga laut dimulai dari kebiasaan kecil di rumah,” kata drh. Elisa Nawipa, relawan edukasi lingkungan.

Kegiatan belajar di luar kelas juga diadakan setiap minggu: siswa mengunjungi pantai, mempelajari rantai makanan laut, dan mengamati dampak plastik di ekosistem sekitar.

Dengan dukungan UNDP dan Yayasan Bahari Lestari, BlueRiver berencana memperluas program ini ke kabupaten tetangga seperti Fakfak dan Teluk Bintuni.


Dukungan Pemerintah dan Komunitas

Pemerintah daerah menyambut positif langkah BlueRiver.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Papua Barat, Ir. Samson Lantong, menyebut gerakan ini selaras dengan program “Zero Waste Teluk Doreri 2030.”
Ia menegaskan pentingnya peran komunitas lokal dalam mewujudkan kebijakan lingkungan.

“Kampanye besar dimulai dari aksi kecil. BlueRiver jadi contoh nyata sinergi anak muda dan pemerintah,” ujar Samson.

Selain itu, beberapa kafe di kawasan Pantai Pasir Putih mulai menerapkan sistem eco-discount, memberi potongan harga bagi pelanggan yang membawa botol minum sendiri — bentuk dukungan konkret terhadap pengurangan plastik sekali pakai.


Harapan untuk Laut yang Lebih Bersih

Menjelang siang, setelah tiga jam mengumpulkan sampah, para relawan berhasil mengumpulkan lebih dari 120 kilogram limbah plastik, termasuk mikroplastik halus yang biasanya terlewat.
Sampah tersebut kemudian dikirim ke fasilitas daur ulang dan laboratorium analisis BlueRiver.

“Kami tahu ini belum mengubah semuanya, tapi setiap butir yang kami angkat berarti satu napas lebih bersih untuk laut,” ucap Yosia sambil tersenyum.

BlueRiver berkomitmen melanjutkan aksi bersih pantai setiap bulan dan mengembangkan aplikasi pemantau mikroplastik berbasis peta digital.
Langkah kecil ini diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat bahwa laut yang bersih dimulai dari tindakan sederhana — membuang sampah di tempatnya dan mengurangi plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: “Bobibos : Terobosan Bahan Bakar Ramah Lingkungan Buatan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak