batangkuis.com — Komunitas transportasi ramah lingkungan, CycleGreen Lombok, menggelar kegiatan bertajuk “Minggu Bebas Bensin” yang mengajak warga dan pengunjung untuk memilih kendaraan tanpa atau minim emisi, seperti sepeda, skuter listrik, maupun kendaraan listrik ringan lainnya.
Acara yang berlangsung di kawasan wisata Senggigi ini menjadi bagian dari kampanye mobilitas berkelanjutan yang digagas bersama pemerintah lokal dan pelaku ekonomi kreatif. Langkah ini adalah upaya nyata untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan kesadaran publik soal dampak kendaraan bermotor terhadap lingkungan.
“Mobilitas alternatif sekarang bukan hanya tren, melainkan bagian dari solusi kita untuk udara lebih bersih dan mobilitas yang lebih sehat,” ujar Rina Wulandari, koordinator CycleGreen Lombok, saat membuka acara di pelataran pantai.
Baca Juga: “EcoGuard Ambon Usut Dampak Tambang Pasir di Teluk Ambon“
CycleGreen Lombok Gelar Format Acara dan Aktivitas Mingguan
“Minggu Bebas Bensin” hadir setiap minggu pagi hari Minggu di wilayah jalan utama Senggigi–Mangsit. Jalan diprioritaskan untuk sepeda, skuter listrik, dan pejalan kaki mulai pukul 06.00 hingga 09.00, sementara kendaraan bermotor dengan mesin bensin dibatasi atau dialihkan ke jalur khusus.
Aktivitas Utama
- Parade sepeda dan skuter listrik sebagai pembuka acara.
- Workshop mini tentang pemeliharaan kendaraan listrik ringan dan efisiensi energi.
- Zona test ride sepeda listrik dan skuter dengan promo khusus dari pelaku usaha lokal.
- Talk show singkat mengenai dampak polusi kendaraan dan pentingnya beralih ke energi bersih.
- Pasar kreatif komunitas yang mempromosikan produk ramah lingkungan dan gaya hidup hijau.
Para peserta yang hadir dibagi ke dalam kelompok komunitas seperti BikeLombok, E-ScootLombok, dan GreenTour Lombok untuk memperkuat jaringan dan semangat kolaborasi.
CycleGreen Lombok Gelar Dampak Lingkungan dan Kesehatan
Kegiatan ini ternyata memberikan efek positif yang lebih dari sekadar hari bebas kendaraan. Pengukuran pola arus kendaraan selama acara menunjukkan penurunan volume kendaraan bermotor hingga sekitar 35 % dibanding minggu sebelumnya.
Manfaat Lingkungan
| Parameter | Sebelum Acara | Saat Minggu Bebas Bensin |
|---|---|---|
| Volume kendaraan bermotor | Tinggi | Turun hingga -35 % |
| Kebisingan jalan (>70 dB) | Tertinggi | Berkurang signifikan |
| Kualitas udara (PM2,5) | Level moderat | Menurun ke level “baik” |
| Aktivitas fisik warga | Rendah | Meningkat (sepeda/skuter) |
Menurut Rina Wulandari, masyarakat terlihat lebih antusias berjalan, bersepeda, dan berkumpul di luar kendaraan bermotor. “Udara terasa lebih segar, dan suasana Minggunya berbeda — lebih tenang, lebih ramah keluarga,” ujar salah seorang peserta.
Kolaborasi Komunitas, Usaha, dan Pemerintah
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. CycleGreen Lombok bekerja sama dengan Dinas Perhubungan NTB, Dinas Pariwisata Lombok Barat, serta pelaku usaha transportasi dan mobilitas listrik.
Bentuk Kolaborasi
- Pemerintah menyediakan ruas jalan sementara yang dibatasi untuk kegiatan bebas kendaraan bermotor.
- Penyewaan dan penjualan skuter listrik lokal mendapatkan promo harga selama acara.
- Pelaku wisata menyiapkan paket sepeda touring untuk tur pagi di jalur bebas kendaraan.
- Kampanye media sosial dengan tagar #MingguTanpaBensinLombok untuk meningkatkan awareness nasional.
Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Andi Prabowo, mengatakan bahwa program ini juga mendukung citra Lombok sebagai destinasi wisata hijau. “Kami ingin turis tidak hanya menikmati pantai dan gunung, tetapi juga merasakan mobilitas yang bersih dan sehat di pulau ini,” ujarnya.
Tantangan dan Strategi Pengembangan
Meskipun antusiasme tinggi, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi agar program Minggu Tanpa Kendaraan Bensin ini dapat berlangsung lebih luas dan berkelanjutan.
Tantangan Utama
- Fasilitas parkir dan terminal kendaraan bermotor pengalihan yang masih terbatas.
- Kalangan pengguna kendaraan bermotor yang belum siap meninggalkan kendaraan pribadi.
- Infrastruktur pengisian daya skuter dan sepeda listrik yang belum merata.
Strategi Ke Depan
- Membangun stasiun pengisian listrik (charging station) di titik strategis sekitar jalur acara.
- Menyediakan kurikulum sekolah untuk edukasi mobilitas hijau sejak dini.
- Memperluas jalur bebas kendaraan bermotor ke kawasan wisata lainnya seperti Kuta Lombok dan Senggigi.
- Mengadakan lomba komunitas sepeda listrik dan e-skuter untuk menarik generasi muda.
Dengan strategi tersebut, CycleGreen Lombok menargetkan peningkatan partisipasi hingga 3.000 orang per minggu dalam 12 bulan ke depan.
Manfaat Sosial dan Ekonomi Lokal
Program Minggu Tanpa Kendaraan Bensin tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi dan sosial untuk komunitas lokal.
Dampak Sosial-Ekonomi
- Mendorong usaha mikro dalam sektor sewa-sepeda dan skuter listrik.
- Meningkatkan kunjungan wisatawan yang menyukai konsep pariwisata sehat dan ramah lingkungan.
- Memperkuat komunitas mobilitas hijau yang aktif mengorganisasi keberlanjutan acara.
- Mengurangi beban kesehatan masyarakat dengan udara lebih bersih dan aktivitas fisik lebih banyak.
“Kalau Minggu bebas bensin bisa rutin dan diperluas, kita bicara transformasi mobilitas di Lombok,” kata salah satu penyewa skuter listrik, Gilang (28).
Kesimpulan: Menuju Mobilitas Berkelanjutan di Lombok
Inisiatif CycleGreen Lombok melalui program Minggu Tanpa Kendaraan Bensin menunjukkan bahwa perubahan mobilitas dimulai dari kebiasaan sederhana.
Dengan menukar kendaraan bermotor berbahan bakar fosil dengan sepeda, skuter listrik, dan berjalan kaki, masyarakat dan wisatawan di Lombok sudah memberi contoh nyata gaya hidup ramah lingkungan.
“Setiap pedal yang kita kayuh, setiap skuter yang kita gunakan, artinya kita memilih udara lebih bersih, pantai lebih jernih, dan masa depan yang lebih hijau,” tutup Rina dengan semangat.
Baca Juga: “Hijaukan Hulu, Sejahterakan Warga: Pertamina dan Kementerian Lingkungan Hidup Tanam Pohon Produktif di Bogor“











