batangkuis.com — Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat dan keberlanjutan lingkungan, komunitas EcoMove Jambi meluncurkan gerakan “Bike to Work Challenge”. Program ini mengajak masyarakat, khususnya para pekerja kantoran di Jambi, untuk rutin bersepeda menuju tempat kerja. Tujuannya sederhana namun berdampak besar: mengurangi polusi udara, menekan kemacetan, dan sekaligus menjaga kebugaran tubuh.
“Kami ingin membuat bersepeda bukan sekadar tren musiman, tetapi bagian dari rutinitas positif masyarakat kota,” ujar Dito Ramadhan, pendiri EcoMove Jambi.
Baca Juga: “OceanCare Bengkulu Bersihkan Pantai dari Jaring Hantu Nelayan“
EcoMove Jambi Populerkan Gerakan Lokal yang Jadi Tren Nasional
Inisiatif ini awalnya dimulai dari sekelompok karyawan yang sering bersepeda setiap akhir pekan. Melihat antusiasme yang tinggi, EcoMove Jambi memperluas ide tersebut menjadi tantangan komunitas terbuka di mana peserta mengumpulkan poin dari setiap kilometer yang mereka tempuh saat bersepeda ke tempat kerja.
Program ini kemudian berkembang pesat melalui media sosial. Setiap peserta mengunggah aktivitas bersepedanya dengan tagar #BikeToWorkJambi dan #EcoMoveChallenge. Mereka juga bisa bergabung dalam leaderboard digital yang menampilkan rekap jarak tempuh dan emisi karbon yang berhasil dihemat.
“Dari 200 peserta awal, kini sudah lebih dari 1.500 orang mendaftar. Bahkan beberapa perusahaan mulai menjadikan kegiatan ini bagian dari program kesejahteraan karyawan,” jelas Dito.
EcoMove Jambi juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dan komunitas pesepeda lokal, termasuk Jambi Cycling Club, untuk menggelar acara “Fun Ride Friday” setiap pekan di kawasan perkantoran Simpang Pulai dan Telanaipura.
EcoMove Jambi Berikan Manfaat Ganda: Sehat untuk Tubuh dan Alam
Selain menjadi alternatif transportasi ramah lingkungan, tantangan ini juga terbukti meningkatkan kebugaran masyarakat. Berdasarkan survei internal EcoMove, peserta yang rutin bersepeda minimal tiga kali seminggu mengalami peningkatan stamina dan penurunan berat badan rata-rata 2 kilogram dalam sebulan.
Beberapa manfaat lain yang disorot:
- Menghemat biaya transportasi harian. Dengan bersepeda, pekerja bisa mengurangi pengeluaran bensin dan parkir hingga 25% per bulan.
- Mengurangi emisi karbon. Setiap kilometer bersepeda setara dengan pengurangan 250 gram CO₂ dibanding menggunakan kendaraan bermotor.
- Meningkatkan produktivitas kerja. Banyak peserta melaporkan merasa lebih segar dan fokus setelah bersepeda di pagi hari.
“Awalnya saya ikut karena penasaran, tapi sekarang malah ketagihan. Saya merasa lebih bertenaga dan tidak mudah stres,” ungkap Rina Febriyanti, staf administrasi di sebuah kantor pemerintahan.
Dukungan Pemerintah dan Perusahaan
Gerakan ini mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Jambi. Dinas Perhubungan bahkan telah menyediakan jalur khusus sepeda di beberapa ruas jalan utama seperti Jalan Slamet Riyadi dan Ahmad Yani. Jalur ini dilengkapi marka hijau dan papan penunjuk arah menuju area perkantoran dan pusat bisnis.
“Kami mendukung inisiatif seperti EcoMove karena sejalan dengan misi kota hijau berkelanjutan,” ujar Budi Hartono, Kepala Dinas Perhubungan Jambi.
Beberapa perusahaan swasta juga mulai ikut berpartisipasi dengan memberikan insentif bagi karyawan yang rutin bersepeda ke kantor, seperti voucher makan siang atau tambahan poin reward internal. Salah satunya adalah Bank Swadaya Jambi yang sudah menerapkan sistem penghargaan berdasarkan jarak tempuh mingguan.
“Dengan program ini, kami ingin mendorong budaya hidup aktif di tempat kerja,” ujar Yuliani Sari, HR Manager Bank Swadaya.
Edukasi dan Komunitas Sosial
Selain tantangan rutin, EcoMove Jambi juga aktif mengedukasi masyarakat tentang keselamatan pesepeda. Setiap bulan mereka mengadakan kelas gratis bertajuk “Safe Cycling 101” yang mengajarkan teknik dasar bersepeda di jalan raya, etika lalu lintas, dan cara merawat sepeda.
Komunitas ini juga melibatkan bengkel lokal dan UMKM yang memproduksi perlengkapan sepeda seperti helm, lampu, serta botol minum ramah lingkungan. Dukungan ini menciptakan rantai ekonomi hijau baru yang memperkuat ekosistem bersepeda di Jambi.
“Kami ingin seluruh pihak, dari pesepeda sampai pelaku usaha, merasakan manfaatnya,” ujar Dito.
Tak hanya itu, setiap akhir bulan EcoMove mengadakan “Ride & Plant”, kegiatan bersepeda diikuti penanaman pohon di area pinggiran kota. Aksi ini simbol bahwa setiap langkah kecil menuju keberlanjutan dimulai dari gaya hidup sehari-hari.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski semakin populer, program ini masih menghadapi sejumlah tantangan seperti cuaca ekstrem, minimnya fasilitas parkir sepeda, serta kurangnya kesadaran pengendara lain terhadap pesepeda di jalan raya.
Untuk mengatasi hal itu, EcoMove menggandeng arsitek muda lokal untuk mendesain rak sepeda modular yang bisa ditempatkan di area publik dan perkantoran. Mereka juga berencana membuat aplikasi pelacak emisi karbon agar peserta bisa memantau kontribusi lingkungannya secara real time.
“Visi kami adalah menjadikan Jambi sebagai kota pesepeda terbesar di Sumatera,” ujar Dito optimis.
Ke depan, EcoMove akan memperluas kegiatan ke sekolah dan universitas melalui program “Bike to Campus”, agar generasi muda turut membangun budaya transportasi hijau sejak dini.
Gaya Hidup Baru Kota Jambi
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, EcoMove Jambi berhasil membuktikan bahwa gaya hidup berkelanjutan dapat dimulai dari langkah sederhana: bersepeda ke tempat kerja. Inisiatif ini tak hanya membawa dampak fisik dan ekonomi, tetapi juga membangun rasa kebersamaan di tengah hiruk-pikuk kota modern.
“Kalau dulu sepeda hanya untuk olahraga, kini jadi simbol perubahan menuju masa depan yang lebih hijau,” tutup Rina dengan senyum.
Baca Juga: “Pelatihan Produk Ramah Lingkungan Di FPK Jember“











