EcoWatch Medan Laporkan Penurunan Polusi Setelah Jalur Hijau

ZeroWaste Bima Galakkan
ZeroWaste Bima Galakkan

batangkuis.com — Laporan terbaru dari lembaga pemantau lingkungan EcoWatch Medan menunjukkan adanya penurunan tingkat polusi udara hingga 18% setelah penerapan program Jalur Hijau Perkotaan yang mulai dijalankan Pemerintah Kota Medan sejak awal tahun 2025. Hasil ini menjadi sinyal positif bagi upaya kota besar di Indonesia dalam menekan emisi karbon dan meningkatkan kenyamanan udara bagi warganya.

Data tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Balai Kota Medan, Jumat (31/10), oleh tim riset EcoWatch Medan yang selama sembilan bulan terakhir melakukan pemantauan kualitas udara di 25 titik strategis kota, termasuk area industri, jalan utama, dan kawasan sekolah.

“Dalam tiga kuartal terakhir, kami melihat penurunan signifikan pada kadar PM2.5 dan NO₂, terutama di wilayah dengan penanaman vegetasi baru. Ini menunjukkan jalur hijau efektif menyerap polutan dan menurunkan suhu mikro,” ujar Raka Wijaya, Kepala Riset EcoWatch Medan.

Baca Juga: “BlueRiver Manokwari Bersihkan Pantai dari Sampah Mikroplastik


EcoWatch Medan Laporkan Jalur Hijau Jadi Faktor Utama Penurunan Polusi

Program Jalur Hijau Perkotaan merupakan inisiatif Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Medan bekerja sama dengan EcoWatch Medan dan komunitas penghijauan lokal. Proyek ini mencakup pembangunan koridor hijau sepanjang 14 kilometer di beberapa ruas jalan padat seperti Gatot Subroto, Iskandar Muda, dan Ring Road.

Komponen Jalur Hijau yang Diterapkan

  • Penanaman 2.000 pohon tabebuya dan trembesi mini di tepi jalan.
  • Pembuatan taman median selebar 3 meter untuk vegetasi peneduh.
  • Pemasangan sensor kualitas udara di setiap dua kilometer jalur.
  • Sistem irigasi otomatis berbasis panel surya untuk efisiensi air.

Menurut EcoWatch Medan, proyek ini bukan hanya memperindah kota, tetapi juga menurunkan suhu udara rata-rata di jalur utama hingga 1,6°C dan mengurangi konsentrasi partikulat halus sebesar 18%.


Data Perbandingan Kualitas Udara Medan

Indikator UdaraSebelum Program (2024)Setelah Program (2025)Perubahan
PM2.5 (µg/m³)5242-19%
NO₂ (ppb)2823-18%
Suhu rata-rata33,5°C31,9°C-1,6°C
Indeks Kualitas Udara (AQI)11289Turun ke kategori “sedang”

Laporan EcoWatch Medan mencatat bahwa kawasan paling signifikan mengalami perubahan adalah sekitar Kampus USU dan Medan Baru, dua area yang sebelumnya memiliki tingkat polusi tinggi akibat lalu lintas padat.


Kolaborasi Komunitas EcoWatch Medan dan Dunia Usaha

Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor. EcoWatch Medan menggandeng sejumlah komunitas warga, pelajar, dan perusahaan swasta melalui skema Corporate Green Partnership.

Bentuk Dukungan dari Komunitas dan Industri

  • Kampanye “1 Karyawan 1 Pohon” oleh perusahaan manufaktur lokal.
  • Adopsi taman median oleh sekolah dan kampus.
  • Aksi bersih-bersih jalan utama setiap pekan oleh relawan EcoWatch.
  • Pembuatan mural edukatif lingkungan di tembok sepanjang jalur hijau.

“Keterlibatan masyarakat menjadi kunci. Kami tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Gerakan warga membuat jalur hijau benar-benar hidup,” jelas Raka.

Pihak DLH Medan juga menyebut bahwa 35% pembiayaan perawatan taman kini berasal dari kemitraan CSR, yang dinilai memperkuat keberlanjutan program.


Dampak Sosial dan Ekonomi

Selain aspek lingkungan, laporan EcoWatch Medan menyoroti efek positif jalur hijau terhadap kesejahteraan warga. Dengan udara yang lebih bersih, masyarakat mulai lebih sering beraktivitas di luar ruangan.

Manfaat Langsung Bagi Warga

  1. Peningkatan jumlah pesepeda dan pejalan kaki hingga 22%.
  2. Penurunan keluhan pernapasan ringan di Puskesmas sebesar 12%.
  3. Pertumbuhan ekonomi kecil-menengah di sekitar jalur hijau seperti pedagang minuman dan taman kuliner.
  4. Kenaikan indeks kebahagiaan warga Medan dalam survei komunitas sebesar 8%.

Warga sekitar kawasan Iskandar Muda mengaku lebih nyaman dengan udara yang kini terasa sejuk dan teduh. “Dulu panas dan macet, sekarang kalau jalan sore terasa segar,” ujar Liana Putri, warga Kelurahan Petisah Tengah.


Tantangan Pemeliharaan dan Keberlanjutan

Meskipun hasilnya positif, EcoWatch Medan menyoroti pentingnya perawatan rutin agar jalur hijau tidak kembali gersang. Tantangan terbesar adalah menjaga sistem irigasi otomatis dan memastikan pohon muda tetap tumbuh optimal di tengah cuaca ekstrem.

Rekomendasi dari EcoWatch Medan

  • Meningkatkan anggaran pemeliharaan taman sebesar 25%.
  • Menambah 500 pohon baru di kawasan padat industri.
  • Memperluas jalur hijau hingga 25 km pada 2027.
  • Mendorong riset lokal tentang vegetasi penyerap polutan.

Raka menambahkan, pihaknya sedang mengembangkan sistem AI monitoring berbasis kamera dan sensor udara untuk memantau pertumbuhan tanaman dan kadar polusi secara real time.


Menuju Kota Rendah Emisi 2030

Langkah EcoWatch Medan dianggap sejalan dengan target Pemerintah Kota Medan untuk mencapai kota rendah emisi karbon pada 2030. Dalam rencana jangka panjang, jalur hijau akan diintegrasikan dengan jalur sepeda dan sistem transportasi publik rendah emisi.

“Medan kini berada di jalur yang benar. Kolaborasi seperti ini membuktikan bahwa perubahan nyata bisa dimulai dari ruang publik,” ujar Raka Wijaya.

Dengan dukungan riset dan partisipasi warga, EcoWatch Medan optimistis bahwa kualitas udara di kota ini akan terus membaik dan menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia.

Baca Juga: “Waspadai Produk Greenwashing, Ini 7 Ciri Produk Ramah Lingkungan Palsu yang Wajib Kamu Tahu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak