batangkuis.com — Di tengah meningkatnya volume sampah kota dan kebutuhan pengelolaan limbah yang lebih cerdas, startup lingkungan GreenUp Bengkulu memperkenalkan aplikasi pemantauan sampah berbasis digital.
Aplikasi ini dirancang untuk membantu masyarakat, petugas kebersihan, dan pemerintah daerah memantau pergerakan serta volume sampah secara real time.
Peluncuran resmi aplikasi ini dilakukan pada awal November 2025 di Balai Kota Bengkulu, dengan dukungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan sejumlah komunitas pecinta lingkungan.
“Tujuan kami sederhana: membuat warga tahu ke mana sampah mereka pergi dan bagaimana cara mengelolanya dengan bijak,” ujar Rafly Wibisono, CEO GreenUp Bengkulu.
Baca Juga: “Universitas Gorontalo Gelar Kuliah Lapangan di Hutan Konservasi“
🌱 GreenUp Bengkulu Bahas Latar Belakang dan Masalah Lingkungan
Data dari DLH Bengkulu (2024) menunjukkan bahwa produksi sampah di wilayah perkotaan mencapai 430 ton per hari, dengan sebagian besar masih berakhir di TPA tanpa proses daur ulang optimal.
Hanya sekitar 18% dari total sampah yang berhasil didaur ulang oleh bank sampah dan pelaku UMKM lingkungan.
Masalah utama bukan sekadar volume, tetapi minimnya sistem informasi terintegrasi untuk melacak rute pengangkutan, titik penumpukan, dan pola pembuangan warga.
“Selama ini, data pengelolaan sampah masih manual. GreenUp mengubah cara kita memandang kebersihan kota melalui teknologi,” kata Nurhayati Hasan, Kepala DLH Bengkulu.
📱 GreenUp Bengkulu Kembangkan Fitur Utama Aplikasi GreenUp
GreenUp menghadirkan berbagai fitur digital yang dikembangkan bersama programmer muda lokal dan ahli lingkungan.
| Fitur Aplikasi | Fungsi Utama | Manfaat bagi Pengguna |
|---|---|---|
| Live Map Trash Tracker | Menampilkan lokasi truk sampah dan titik penumpukan | Warga dapat memantau jadwal pengangkutan |
| Volume Alert System | Memberi peringatan bila tong sampah penuh | Menghindari penumpukan di area padat |
| Waste Report Citizen | Fitur aduan cepat untuk laporan sampah liar | Respons lebih cepat dari petugas lapangan |
| Reward Point EcoUser | Poin insentif untuk warga yang rajin memilah sampah | Mendorong perilaku daur ulang berkelanjutan |
| Dashboard DLH Smart | Panel analisis untuk instansi pemerintah | Membantu pengambilan kebijakan berbasis data |
“Kami ingin masyarakat merasa menjadi bagian dari sistem kebersihan kota, bukan hanya penonton,” tambah Rafly.
🧩 GreenUp Bengkulu Dengan Integrasi Teknologi dan Edukasi
Aplikasi GreenUp dibangun menggunakan teknologi IoT (Internet of Things) dan sensor ultrasonik yang dipasang di beberapa tong sampah pintar di area publik seperti taman, sekolah, dan pasar tradisional.
Sensor tersebut mengirimkan data ketinggian sampah ke server utama setiap 30 menit, sehingga petugas dapat mengatur rute pengangkutan secara efisien.
Selain itu, GreenUp juga menyediakan fitur edukasi digital berisi infografik dan video singkat tentang pemilahan sampah organik, anorganik, dan B3 (bahan berbahaya & beracun).
“Kami ingin teknologi tidak hanya memantau, tapi juga mengedukasi. Kesadaran publik adalah kunci perubahan,” ujar Siti Marlina, Head of Product GreenUp.
🌏 Dampak Nyata di Lapangan
Dalam uji coba tiga bulan pertama di wilayah Kecamatan Ratu Agung dan Teluk Segara, aplikasi GreenUp berhasil menurunkan laporan penumpukan sampah sebesar 40%.
Selain itu, jumlah warga yang melakukan pemilahan mandiri meningkat dari 25% menjadi 52%.
“Kami tidak menyangka efeknya secepat ini. Warga jadi lebih peduli karena bisa melihat data langsung di ponsel mereka,” kata Rizal Efendi, ketua RW di Kelurahan Sawah Lebar.
Dari sisi pemerintah, pengelolaan truk pengangkut menjadi lebih efisien karena sistem navigasi aplikasi dapat menghitung jalur optimal berdasarkan kapasitas muatan dan jarak antar titik.
💡 Kolaborasi dengan Komunitas Hijau
GreenUp juga bekerja sama dengan sejumlah komunitas lingkungan seperti Bengkulu Clean Action dan EcoYouth Nusantara.
Melalui program “Satu Gadget, Satu Aksi Hijau”, setiap relawan dilatih untuk membantu warga lanjut usia dalam menggunakan aplikasi serta mengajarkan cara melaporkan sampah ilegal.
“Kolaborasi ini penting agar transformasi digital tidak hanya dirasakan generasi muda,” ujar Siti Marlina.
Program tersebut berhasil melibatkan lebih dari 800 relawan digital lingkungan di seluruh kota Bengkulu.
📈 Rencana Pengembangan dan Potensi Ekspor Teknologi
Ke depan, GreenUp berencana mengembangkan versi GreenUp Pro yang dapat digunakan di tingkat provinsi.
Versi ini akan memiliki fitur analisis karbon, sistem insentif berbasis token digital, dan integrasi dengan data cuaca untuk memprediksi peningkatan volume sampah pada musim hujan.
“Kami ingin menjadikan GreenUp bukan hanya aplikasi lokal, tapi model sistem kebersihan kota pintar di Indonesia,” kata Rafly.
Startup ini juga sedang menjajaki kolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menerapkan aplikasi serupa di kota lain seperti Palembang dan Yogyakarta.
🌿 Menuju Kota Bersih dan Cerdas
GreenUp Bengkulu membuktikan bahwa teknologi digital bisa menjadi solusi nyata bagi masalah klasik seperti pengelolaan sampah.
Dengan dukungan komunitas, pemerintah, dan masyarakat, aplikasi ini diharapkan menjadi fondasi bagi konsep “Smart Eco City Bengkulu 2030.”
“Kami tidak ingin hanya mengelola sampah, tapi juga membangun peradaban baru yang sadar lingkungan,” tutup Rafly.
Melalui inovasi ini, Bengkulu menegaskan posisinya sebagai salah satu kota di Indonesia yang serius memadukan teknologi dan keberlanjutan untuk masa depan yang lebih hijau.
Baca Juga: “Menjadi Pahlawan Lingkungan Lewat Bisnis UMKM Berkelanjutan“











