batangkuis.com — Di tengah meningkatnya isu limbah kendaraan, Komunitas ReCraft Pontianak hadir dengan solusi kreatif dan berkelanjutan. Mereka berhasil mengubah ban bekas yang tak terpakai menjadi furnitur estetik bernilai tinggi, seperti kursi rotan modern, meja kopi, hingga rak tanaman. Gerakan ini bukan sekadar proyek kreatif, tetapi juga langkah nyata dalam menciptakan ekonomi sirkular dan kesadaran lingkungan di Kalimantan Barat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah bukan akhir dari fungsi, tapi awal dari kreativitas,” ujar Anita Yusri, pendiri Komunitas ReCraft Pontianak.
Baca Juga: “SMA Luwuk Luncurkan Laboratorium Terbuka Belajar Energi Surya“
Komunitas ReCraft Pontianak Ubah Dari Sampah Jadi Karya Seni Bernilai
Ban bekas biasanya dianggap limbah berbahaya karena sulit terurai dan sering menumpuk di bengkel atau tempat pembuangan. Namun, di tangan anggota ReCraft, bahan itu disulap menjadi produk interior modern yang tidak hanya menarik, tapi juga fungsional.
Proses daur ulangnya cukup kompleks:
- Pengumpulan dan seleksi bahan: Ban dikumpulkan dari bengkel di sekitar Pontianak dan diseleksi berdasarkan ketebalan serta kondisi karet.
- Pembersihan dan perakitan: Ban dicuci, dikeringkan, lalu dipotong sesuai desain furnitur.
- Finishing ramah lingkungan: Permukaan diberi lapisan cat berbahan dasar air yang aman dan tahan lama.
- Sentuhan lokal: Furnitur kemudian dihias dengan kain tenun Sambas atau serat rotan lokal agar tampak lebih artistik.
“Kami menggabungkan material keras seperti karet dengan elemen alami khas Kalimantan, sehingga hasilnya kuat namun tetap hangat,” jelas Anita.
Komunitas ReCraft Pontianak Mendorong Ekonomi Kreatif Daerah
Komunitas ReCraft Pontianak kini memiliki lebih dari 20 anggota aktif yang berasal dari berbagai latar belakang—mulai dari pengrajin, ibu rumah tangga, hingga mahasiswa desain. Produk mereka kini dipasarkan melalui media sosial, bazar kreatif, dan e-commerce lokal.
“Awalnya hanya hobi, sekarang jadi sumber pendapatan tambahan. Banyak pelanggan pesan furnitur untuk kafe dan homestay,” ujar Eka Marisa, anggota komunitas yang kini menjadi pengrajin tetap.
Dampak ekonominya cukup signifikan:
- Lapangan kerja baru: Komunitas mempekerjakan pengrajin muda dan mantan pekerja bengkel untuk mengolah ban.
- Peluang ekspor: Beberapa produk seperti Tire Lounge Chair dan EcoPlanter Stand kini mulai diminati pembeli dari Malaysia dan Singapura.
- Dukungan pemerintah lokal: Dinas Lingkungan Hidup Pontianak turut membantu promosi melalui pameran UMKM hijau.
Dengan mengusung nilai “dari sampah menjadi peluang,” ReCraft menjadi contoh nyata bahwa kreativitas dapat membuka ruang ekonomi baru tanpa meninggalkan nilai lingkungan.
Komunitas ReCraft Pontianak Berikan Edukasi dan Kolaborasi Lingkungan
Selain memproduksi furnitur, komunitas ini juga aktif memberikan pelatihan daur ulang untuk sekolah, kampus, dan komunitas muda. Mereka mengajarkan cara memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi barang bernilai guna.
Beberapa kegiatan rutin ReCraft antara lain:
- Workshop desain daur ulang di sekolah-sekolah Pontianak.
- Kampanye #CraftNotTrash di media sosial untuk mengajak masyarakat memilah sampah.
- Kolaborasi dengan pelaku usaha lokal, seperti kafe dan toko desain interior, untuk menampilkan produk mereka sebagai dekorasi ramah lingkungan.
“Kami ingin anak muda paham bahwa gaya hidup hijau itu keren, bukan membosankan,” tambah Anita.
Komunitas juga menggandeng Bank Sampah Pontianak untuk mendukung rantai pasokan bahan baku. Dengan sistem ini, warga mendapat insentif ketika menyerahkan ban bekas, sementara ReCraft memperoleh pasokan material berkualitas.
Tantangan dan Inovasi
Namun, perjalanan ReCraft tidak selalu mudah. Tantangan terbesar datang dari persepsi masyarakat yang masih menganggap produk daur ulang kurang mewah.
Untuk mengatasi hal itu, komunitas ini fokus pada desain modern minimalis agar produk terlihat eksklusif dan cocok untuk ruang bergaya urban. Mereka juga berencana menghadirkan sertifikasi hijau yang menandakan bahwa setiap produk diproses dengan standar lingkungan.
Selain itu, komunitas sedang mengembangkan koleksi baru berbasis smart design, di mana ban bekas dikombinasikan dengan sensor lampu LED atau pengisi daya nirkabel untuk meja kerja ramah lingkungan.
“Kami percaya inovasi tidak berhenti pada bahan, tapi juga bagaimana teknologi bisa memperpanjang umur pakainya,” ujar Rizal Pratama, desainer produk ReCraft.
Masa Depan Desain Berkelanjutan
ReCraft Pontianak kini menjadi simbol gerakan desain hijau lokal di Kalimantan Barat. Mereka bukan hanya mengubah limbah menjadi produk, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap keberlanjutan.
Rencana mereka ke depan mencakup:
- Mendirikan galeri ReCraft Center sebagai ruang pamer permanen dan tempat belajar desain daur ulang.
- Menjalin kerja sama dengan akademi desain dan arsitektur untuk menciptakan kurikulum kreatif berbasis upcycling.
- Meningkatkan kapasitas produksi melalui pelatihan digital marketing agar produk bisa menjangkau pasar global.
“Kami ingin Pontianak dikenal bukan hanya karena sungainya, tapi juga karena kreativitas hijaunya,” tutur Anita menutup dengan semangat.
Baca Juga: “Lurah Kukusan Ajak Ormas Bersinergi Jaga Kondusivitas Lingkungan“











