LautBersih Lombok Adakan Aksi Pembersihan Terumbu Karang

LautBersih Lombok Adakan
LautBersih Lombok Adakan

batangkuis.com — Pagi itu, pantai Senggigi terlihat berbeda.Puluhan penyelam berseragam biru muda dengan logo LautBersih Lombok berbaris di tepi perahu kayu.
Mereka bersiap menyelam ke kedalaman 10 meter untuk melakukan aksi pembersihan terumbu karang, yang kini menjadi agenda tahunan komunitas tersebut.

“Kami ingin mengembalikan warna laut Lombok seperti dulu — jernih, hidup, dan penuh ikan,” ujar Adi Rinaldi, ketua LautBersih Lombok.

Program ini melibatkan lebih dari 70 relawan, terdiri atas penyelam profesional, mahasiswa kelautan, dan warga pesisir.
Aksi tersebut bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga kampanye edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem bawah laut.

Baca Juga: “Warga Sumbawa Antusias Ikuti Tantangan Hidup Tanpa Plastik


LautBersih Lombok Fokus pada Sampah Mikro dan Jaring Hantu

Tim LautBersih bekerja di area terumbu yang rusak akibat sampah plastik dan jaring ikan yang tersangkut.
Dengan peralatan selam lengkap, para relawan mengangkat limbah plastik, botol, dan sisa alat tangkap yang menempel di karang.

Menurut data yang dikumpulkan komunitas, setiap 100 meter persegi dasar laut mengandung rata-rata 2–3 kilogram sampah mikroplastik.
Jenis limbah yang paling sering ditemukan adalah:

  • Kantong plastik bening yang sulit terurai.
  • Serat tali nelayan dan jaring hantu.
  • Botol minuman ringan dan kemasan kosmetik.

“Jaring yang tersangkut bisa melukai karang dan menjerat ikan kecil. Kalau dibiarkan, ekosistemnya bisa mati,” jelas Nina Kusuma, koordinator lapangan.

Seluruh sampah yang diangkat dari laut dibersihkan, dikeringkan, lalu dikirim ke pusat daur ulang di Mataram untuk diproses menjadi bahan seni dan perabot rumah tangga.


LautBersih Lombok Adakan Edukasi Masyarakat Pesisir

Selain kegiatan bawah laut, LautBersih juga mengadakan workshop edukasi lingkungan bagi warga pesisir dan siswa sekolah dasar di Desa Senggigi.
Materi yang diberikan meliputi pengenalan jenis terumbu karang, bahaya mikroplastik, serta cara memilah sampah rumah tangga.

Kegiatan ini diakhiri dengan lomba “Sampah Tukar Pohon”, di mana anak-anak menukar sampah plastik dengan bibit mangrove.
Lebih dari 300 bibit ditanam di tepi pantai dalam sehari.

“Kami ingin anak-anak tumbuh dengan rasa cinta terhadap laut, bukan hanya melihatnya sebagai tempat wisata,” ujar Nina.

Program edukasi ini mendapat dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Barat, yang menilai bahwa pendekatan komunitas menjadi kunci keberhasilan konservasi jangka panjang.


Sinergi Komunitas dan Pemerintah

Kegiatan LautBersih Lombok bukanlah gerakan tunggal.
Komunitas ini berkolaborasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Universitas Mataram, dan beberapa resort lokal yang menyediakan peralatan selam serta logistik.

Pemerintah daerah menyambut baik inisiatif ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ekowisata berkelanjutan.

“Lombok dikenal dengan lautnya yang indah, tapi kita juga harus memastikan generasi berikutnya masih bisa menikmatinya,” ujar Irfan Sutrisno, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat.

Melalui kerja sama tersebut, area konservasi seluas 15 hektare kini menjadi zona bebas plastik, dan akan dijadikan lokasi riset bagi mahasiswa kelautan.


Dampak Ekologis dan Sosial

Sejak pertama kali digelar pada 2021, aksi pembersihan LautBersih telah berhasil mengangkat lebih dari 3 ton sampah laut.
Kondisi terumbu karang di sekitar Senggigi pun menunjukkan tanda pemulihan — muncul kembali ikan kecil dan anemon laut yang sebelumnya menghilang.

Dampak sosialnya juga terasa. Banyak nelayan mulai beralih ke praktik penangkapan ramah lingkungan, seperti penggunaan jaring selektif dan pengelolaan limbah perahu.

“Dulu, sebagian dari kami buang sampah ke laut karena tidak tahu dampaknya. Sekarang kami ikut jaga laut bersama,” kata Pak Wahyudin, nelayan setempat.

Program ini juga membuka peluang ekonomi baru, seperti tur edukasi “Dive for Change” yang mengajak wisatawan ikut serta membersihkan laut sambil menikmati panorama bawah air.


Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski hasilnya positif, tantangan tetap besar.
Sampah yang terbawa arus dari daratan masih menjadi ancaman utama.
Curah hujan tinggi membuat sungai membawa limbah rumah tangga hingga ke laut.

Untuk itu, LautBersih kini merencanakan proyek “River to Reef”, yaitu sistem penyaringan sampah di muara sungai yang mengalir ke pesisir barat Lombok.
Program ini diharapkan mulai berjalan tahun depan dengan dukungan CSR dari perusahaan swasta.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua pihak — pemerintah, industri, dan masyarakat — harus bergerak bersama,” tegas Adi.


Refleksi: Menyelam Demi Harapan

Aksi pembersihan terumbu karang LautBersih Lombok menjadi simbol nyata dari gerakan akar rumput yang berdampak luas.
Bukan hanya membersihkan laut, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis di hati masyarakat.

Ketika matahari tenggelam di ufuk barat, para penyelam naik ke permukaan dengan jaring penuh sampah dan senyum lega.
Di bawah sana, laut yang mulai kembali jernih seolah berterima kasih — memberi pesan sederhana bahwa perubahan besar bisa dimulai dari satu tindakan kecil.

Baca Juga: “Lewat Literasi Sains, Pelajar Diharapkan Mampu Mitigasi Risiko di Lingkungan Sekitar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak