batangkuis.com – Sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan solusi unik untuk dua masalah besar sekaligus: sampah dapur dan krisis energi.
Lewat proyek riset bertajuk “BioWaste to Clean Energy”, mereka berhasil mengubah limbah makanan rumah tangga menjadi energi bersih berupa biogas.
Ketua tim, Dimas Pratama, menyebut ide ini lahir dari kebiasaan sederhana: melihat sisa makanan menumpuk di kantin kampus.
“Kami berpikir, kalau semua limbah itu bisa diolah, berapa banyak energi yang bisa kita hasilkan setiap hari?” ujarnya.
Prototipe sistem yang mereka buat sudah diujicobakan di beberapa titik sekitar kampus ITS, termasuk asrama dan kantin mahasiswa.
Baca Juga: “Gerakan Hijau GreenLifestyles Jakarta Ajak Warga Kurangi Plastik“
Proses: Dari Sisa Makanan Jadi Gas Ramah Lingkungan
1. Prinsip Dasar Teknologi
Sistem ini bekerja dengan metode anaerobic digestion — proses fermentasi tanpa oksigen yang memanfaatkan mikroorganisme alami.
Selama beberapa hari, sisa makanan seperti nasi, sayur, dan kulit buah terurai menjadi gas metana (CH₄) dan karbon dioksida (CO₂).
Gas metana inilah yang digunakan sebagai bahan bakar untuk kompor dan lampu.
Menurut Dimas, hasil gas dari satu kilogram limbah dapur bisa digunakan untuk memasak selama 40 menit.
“Sistemnya tertutup rapat, tidak bau, dan bisa dipasang di rumah tanpa butuh lahan besar,” tambahnya.
2. Produk Samping yang Bernilai
Selain gas, proses ini menghasilkan pupuk organik cair yang kaya nutrisi.
Produk samping ini digunakan untuk kebun kampus ITS dan lahan pertanian warga sekitar.
“Dengan satu teknologi, kita bisa menghasilkan energi sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan,” kata Dimas.
Manfaat Lingkungan dan Sosial
Teknologi sederhana ini membawa banyak dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Beberapa manfaat yang telah tercatat:
- 🌍 Mengurangi emisi karbon hingga 35% dibanding pembuangan sampah konvensional.
- 🔥 Menghemat penggunaan LPG di rumah tangga dan kantin.
- 🌾 Mendukung pertanian organik melalui pemanfaatan pupuk cair hasil fermentasi.
- 💡 Mendorong kemandirian energi di komunitas kampus dan desa sekitar.
Dosen pembimbing proyek, Dr. Lestari Wulandari, menekankan bahwa inovasi mahasiswa ini bukan sekadar eksperimen laboratorium.
“Ini langkah kecil menuju kedaulatan energi lokal. Kalau bisa diterapkan di 1.000 rumah, dampaknya sangat besar,” ujarnya.
Kolaborasi dengan Pemerintah dan Komunitas
Program ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, yang melihat potensi penerapan sistem ini dalam skala kota.
Menurut Arif Santoso, kepala DLH, teknologi ini sesuai dengan arah pembangunan “Surabaya Green City 2030.”
Pemerintah berencana mengintegrasikan sistem pengolahan limbah dapur ini ke beberapa bank sampah dan dapur umum di wilayah perkotaan.
Langkah ini bertujuan menekan jumlah sampah organik yang masuk ke TPA Benowo.
Sementara itu, tim mahasiswa ITS juga bekerja sama dengan komunitas “Urban Green Surabaya” untuk pelatihan penggunaan alat bagi warga.
Pelatihan meliputi:
- Cara memisahkan limbah dapur dari plastik dan bahan non-organik.
- Teknik fermentasi alami tanpa bahan kimia tambahan.
- Pemanfaatan gas dan pupuk cair untuk kebutuhan rumah tangga.
Aplikasi Digital untuk Pemantauan Energi
Tak hanya fokus pada alat fisik, tim ITS juga mengembangkan aplikasi pemantauan energi berbasis Internet of Things (IoT).
Melalui aplikasi ini, pengguna bisa memantau:
- Volume limbah yang masuk,
- Tekanan gas dalam tangki, dan
- Estimasi energi yang dihasilkan setiap hari.
Sistem pintar ini akan dikembangkan lebih lanjut agar bisa digunakan di komunitas atau kompleks perumahan.
“Tujuannya agar setiap orang bisa tahu seberapa banyak energi yang mereka hasilkan dari sampahnya sendiri,” ujar Dimas.
Dari Kampus untuk Masa Depan Energi Nasional
ITS telah lama dikenal sebagai kampus inovatif di bidang energi berkelanjutan.
Proyek mahasiswa ini menjadi bukti nyata komitmen tersebut.
Dalam jangka panjang, mereka berencana mengembangkan model “Smart Biogas Village” — desa yang memanfaatkan seluruh limbah organik sebagai energi utama.
Menurut Dr. Lestari, model ini bisa menjadi solusi nyata bagi desa-desa terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik besar.
“Dengan teknologi sederhana dan pelatihan dasar, mereka bisa mandiri energi,” jelasnya.
Lebih jauh, ITS juga membuka kesempatan kolaborasi dengan sektor swasta dan lembaga donor internasional untuk memperluas penerapan teknologi ini di berbagai kota Indonesia.
Refleksi: Energi Bersih dari Dapur Sendiri
Proyek ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari dapur rumah.
Sisa nasi, sayur, dan kulit buah yang dulu dianggap sampah kini berubah menjadi sumber energi bersih dan bermanfaat.
Inovasi mahasiswa ITS tidak hanya menjawab tantangan lingkungan, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan yang lebih hijau dan mandiri.
“Kalau setiap rumah tangga Indonesia bisa menghasilkan energinya sendiri, itu revolusi nyata,” tutur Dimas dengan yakin.
Dari ruang kuliah kecil di Surabaya, ide ini tumbuh menjadi inspirasi nasional.
Energi bersih tidak lagi hanya milik negara maju — tapi juga lahir dari dapur-dapur Indonesia yang kreatif dan peduli lingkungan.
Baca Juga: “BNPB Ungkap Penyebab Banjir Semarang Sulit Surut“











