batangkuis.com — Pantai Panjang Bengkulu pagi itu tampak indah, namun di balik ombak biru, bahaya senyap mengintai: jaring hantu dimana OceanCare Bengkulu Istilahkan ini digunakan untuk menggambarkan jaring nelayan yang terlepas atau dibuang ke laut, lalu terus menjebak ikan, penyu, dan biota laut lainnya tanpa kendali.Melihat ancaman tersebut, Komunitas OceanCare Bengkulu menggelar aksi bertajuk “Clean the Ghost Net”, dengan misi mengangkat sisa jaring yang menumpuk di pesisir barat kota.
Kegiatan ini diikuti puluhan relawan muda, nelayan, dan siswa sekolah maritim.
“Setiap jaring hantu yang kami angkat adalah satu nyawa laut yang diselamatkan,” ujar Rendra Alamsyah, Koordinator OceanCare Bengkulu.
Selama dua hari, tim berhasil mengumpulkan lebih dari 500 kilogram jaring bekas dari dasar perairan dan kawasan terumbu karang dangkal.
Baca Juga: “Komunitas ReCraft Pontianak Ubah Ban Bekas Jadi Furnitur Unik“
OceanCare Bengkulu Bersihkan Jaring Hantu, Musuh Tak Terlihat bagi Lautan
Menurut OceanCare, jaring hantu menjadi salah satu polusi laut paling berbahaya.
Meski tampak sepele, material nilon dan plastik pada jaring dapat bertahan ratusan tahun di laut.
Saat terombang-ambing, jaring tersebut terus menangkap ikan, menjerat penyu, hingga merusak karang.
“Banyak nelayan tidak sengaja kehilangan jaring karena badai, tapi dampaknya bisa fatal,” kata dr. Arum Wibowo, ahli biologi laut dari Universitas Bengkulu.
Data internal komunitas menunjukkan, 7 dari 10 kawasan pesisir Bengkulu memiliki sisa jaring nelayan yang tertinggal di laut.
Sebagian tersangkut di bebatuan dan menjadi “jebakan sunyi” bagi ikan kecil dan kepiting.
OceanCare Bengkulu Adakan Aksi Bersih Laut dengan Teknologi Sederhana
Aksi bersih pantai OceanCare melibatkan kombinasi penyelam lokal, alat deteksi sonar sederhana, dan jaring pengangkat manual.
Tim menyisir area laut sedalam 5–10 meter menggunakan perahu nelayan tradisional.
Jaring yang ditemukan diangkat ke permukaan lalu dikeringkan di darat untuk didaur ulang.
“Kami tidak hanya mengumpulkan, tapi juga mendata lokasi jaring agar bisa dipantau secara berkala,” ujar Yuni Rachmawati, divisi riset OceanCare.
Beberapa jaring hantu bahkan ditemukan menjerat bangkai penyu hijau dan bintang laut.
Temuan ini kemudian didokumentasikan untuk laporan edukatif kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Bengkulu.
Setelah proses pengeringan, sebagian material jaring diolah menjadi tas jaring daur ulang dan anyaman dekoratif oleh pengrajin lokal.
OceanCare Bengkulu Berikan Edukasi dan Kolaborasi dengan Nelayan
Selain membersihkan pantai, OceanCare juga mengadakan sesi edukasi ramah laut bagi komunitas nelayan tradisional.
Materi disampaikan dengan bahasa lokal agar lebih mudah dipahami, membahas cara mengelola limbah jaring dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut.
“Kami ingin nelayan jadi bagian dari solusi, bukan dianggap penyebab,” ujar Rendra.
OceanCare menyediakan program tukar jaring lama dengan bahan biodegradable yang lebih cepat terurai di laut.
Dalam program tersebut, nelayan yang menyerahkan jaring rusak akan mendapat diskon pembelian jaring baru dari mitra koperasi.
Langkah ini disambut positif oleh warga pesisir yang selama ini kesulitan membuang jaring bekas secara aman.
Kolaborasi Komunitas dan Sekolah Maritim
Kegiatan Clean the Ghost Net juga melibatkan siswa dari SMK Pelayaran Bengkulu, yang ikut serta sebagai relawan lapangan.
Mereka membantu memisahkan jenis jaring, mencatat koordinat temuan, dan mempelajari dampak ekologisnya.
“Kami belajar langsung bagaimana laut kita menderita karena kelalaian manusia,” kata Fahri Nanda, salah satu siswa peserta kegiatan.
OceanCare berencana menjadikan kegiatan ini agenda rutin setiap tiga bulan, sambil menggandeng sekolah-sekolah lain di kawasan pesisir Sumatra bagian barat.
Dengan pendekatan pendidikan, mereka berharap generasi muda lebih peduli terhadap laut sejak dini.
Dampak Ekonomi dari Laut yang Bersih
Membersihkan jaring hantu tidak hanya berdampak pada ekosistem, tapi juga pada ekonomi pesisir.
Banyak nelayan mengaku hasil tangkapan mereka meningkat setelah area laut dibersihkan.
Perahu juga lebih aman karena tidak tersangkut jaring yang menumpuk di dasar laut.
“Sebelumnya jaring kami sering rusak karena tersangkut jaring bekas orang lain. Sekarang jauh lebih lancar,” ujar Baharudin, nelayan Pantai Panjang.
Selain itu, kawasan pantai yang bersih kini menarik minat wisatawan lokal untuk melakukan snorkeling dan wisata edukasi laut.
OceanCare menggandeng pelaku wisata setempat untuk membuat paket wisata bertema “Laut Sehat, Wisata Hebat”.
Harapan untuk Laut Bengkulu yang Lebih Bersih
Aksi OceanCare mendapat apresiasi dari Dinas Lingkungan Hidup Bengkulu yang menilai kegiatan tersebut sejalan dengan rencana daerah dalam pengelolaan pesisir berkelanjutan.
Pemerintah berkomitmen membantu melalui dukungan logistik dan kampanye sosial media tentang bahaya jaring hantu.
“Kami akan memperkuat edukasi lewat pos nelayan agar pesan ini menyebar lebih luas,” ujar Ardiansyah Putra, Kepala DLH Bengkulu.
Komunitas berencana membentuk “Ocean Patrol”, tim relawan kecil yang bertugas memantau wilayah laut dan melaporkan keberadaan jaring baru ke Basarnas atau DLH.
Dengan keterlibatan masyarakat, mereka yakin laut Bengkulu bisa menjadi contoh daerah pesisir yang sadar lingkungan.
Refleksi – Laut Sehat, Tanggung Jawab Bersama
Aksi sederhana OceanCare membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari komunitas kecil.
Dengan mengangkat jaring hantu, mereka bukan hanya membersihkan laut, tetapi juga menghidupkan kembali kesadaran ekologis di pesisir Bengkulu.
“Laut tidak butuh pahlawan, hanya butuh manusia yang peduli,” tutup Rendra Alamsyah dengan senyum lelah di tepi pantai.
Di bawah sinar matahari sore, tumpukan jaring bekas berubah menjadi simbol harapan baru:
Laut Bengkulu yang bebas dari perangkap senyap, dan masyarakat yang tumbuh bersama menjaga rumah birunya.
Baca Juga: “DLH ingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan“











