batangkuis.com – Gelombang kesadaran hijau semakin terasa di pasar Indonesia. Dulu, label “ramah lingkungan” hanya menjadi nilai tambah. Kini, ia berubah menjadi faktor utama dalam keputusan membeli.
Menurut riset Katadata Insight Center (KIC) 2025, 7 dari 10 konsumen muda Indonesia lebih memilih produk yang memiliki komitmen terhadap keberlanjutan.
Mulai dari kemasan daur ulang, bahan alami, hingga proses produksi rendah emisi — semua menjadi pertimbangan utama di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap perubahan iklim.
“Kesadaran masyarakat terhadap dampak lingkungan kini meningkat drastis,” ujar Ratri Kusumawardhani, analis perilaku konsumen dari Universitas Indonesia.
“Bagi generasi muda, membeli produk hijau adalah bentuk pernyataan identitas dan tanggung jawab sosial.”
Baca Juga: “Meski Likuiditas Banjir, Inflasi Bakal Tetap Terkendali“
Dari Tren ke Standar Baru Pasar
Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam perilaku belanja konsumen.
Produk ramah lingkungan kini tidak lagi dianggap mahal atau eksklusif, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Supermarket, e-commerce, hingga toko kelontong modern mulai menyediakan area khusus untuk produk berlabel hijau.
Platform daring seperti Tokopedia Green, Shopee Eco Market, dan Blibli Circular menghadirkan ribuan produk yang menggunakan bahan daur ulang atau kemasan biodegradable.
“Permintaan meningkat karena masyarakat semakin paham manfaatnya,” ujar Diana Wijaya, CEO Retail Insight Indonesia.
“Produk hijau kini menjadi standar baru dalam dunia ritel modern.”
Peran Generasi Z dan Milenial
Perubahan ini tak lepas dari peran generasi muda.
Milenial dan Gen Z menjadi penggerak utama transformasi menuju konsumsi berkelanjutan.
Mereka tumbuh di era krisis iklim dan terpapar isu lingkungan melalui media sosial sejak dini.
Tagar seperti #EcoFriendly, #LessWaste, dan #BuyLocal menjadi gerakan digital yang menggiring perubahan nyata di pasar.
Menurut riset NielsenIQ 2025, 85% konsumen Gen Z bersedia membayar lebih untuk produk yang memiliki dampak positif bagi lingkungan.
“Generasi muda tidak sekadar belanja — mereka memilih nilai,” jelas Ratri.
“Mereka menolak produk yang merusak bumi dan memilih merek yang sejalan dengan prinsip mereka.”
Inovasi dari Industri Lokal
Kesadaran konsumen yang meningkat memicu inovasi besar di industri lokal.
Banyak merek Indonesia kini mulai mengembangkan produk ramah lingkungan dengan kualitas bersaing global.
Label seperti Sejauh Mata Memandang, Sensatia Botanicals, Lemonilo, dan Evermos Eco Series menjadi pelopor dalam menciptakan produk yang indah sekaligus etis.
Mulai dari pakaian berbahan serat alami, sabun tanpa bahan kimia keras, hingga makanan ringan dengan kemasan kompos.
“Pasar hijau tidak lagi sebatas tren gaya hidup,” kata Rizky Pramana, pengamat bisnis berkelanjutan.
“Ini adalah kesempatan ekonomi baru yang akan membentuk arah industri dalam sepuluh tahun ke depan.”
Selain itu, startup berbasis green innovation juga bermunculan — seperti Waste4Change dan Daur.id, yang berfokus pada pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular.
Kolaborasi antara bisnis dan komunitas lingkungan memperkuat ekosistem hijau di Indonesia.
Dukungan Pemerintah dan Kebijakan Hijau
Pemerintah pun bergerak cepat.
Melalui program Green Product Certification dan Kebijakan Ekonomi Sirkular 2030, produk ramah lingkungan mendapat prioritas pengembangan dan insentif pajak.
Selain itu, kampanye Gerakan Nasional Cinta Produk Lokal Berkelanjutan mendorong masyarakat untuk membeli produk hijau buatan dalam negeri.
Langkah ini tak hanya mengurangi emisi karbon, tapi juga memperkuat ekonomi daerah.
“Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat produksi hijau di Asia Tenggara,” kata Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dalam forum Sustainable Business Summit 2025.
“Konsumen kita sudah siap, tinggal bagaimana pelaku industri mempercepat inovasi.”
Tantangan: Edukasi dan Konsistensi
Meski pasar hijau tumbuh cepat, tantangan masih besar.
Tidak semua produsen konsisten dengan praktik ramah lingkungan.
Isu greenwashing — ketika merek hanya sekadar mengklaim hijau tanpa bukti nyata — masih menjadi sorotan.
Selain itu, edukasi publik masih perlu diperluas.
Sebagian masyarakat belum memahami perbedaan antara “produk alami” dan “produk berkelanjutan.”
Keduanya tidak selalu sama — dan di sinilah pentingnya transparansi label dan sertifikasi resmi.
“Kejujuran adalah kunci,” ujar Rizky Pramana.
“Keberlanjutan sejati tidak bisa hanya diiklankan, tapi harus ditunjukkan melalui proses.”
Refleksi: Konsumen Sebagai Kekuatan Hijau
Tren ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari keputusan kecil — dari keranjang belanja kita sendiri.
Konsumen kini bukan sekadar pembeli, melainkan agen perubahan yang menentukan arah industri.
“Setiap pilihan punya dampak,” ujar Ratri Kusumawardhani.
“Dan semakin banyak orang memilih hijau, semakin cepat bumi kita sembuh.”
Dengan kesadaran baru ini, masa depan pasar Indonesia tampak cerah — bukan hanya karena pertumbuhan ekonominya, tetapi karena semakin banyak warganya yang memilih tumbuh bersama bumi, bukan melawannya.
Baca Juga: “Prabowo Minta Bahasa Portugis Diajarkan di Sekolah, Ini Reaksi Mendikdasmen“











