batangkuis.com — Di sebuah pagi cerah di SD Majalengka, halaman sekolah tampak sibuk namun teratur. Beberapa murid mengenakan sarung tangan dan membawa ember kecil berisi daun kering.
Di sudut taman, mereka belajar mengubah limbah organik menjadi kompos bersama guru mereka.
Program ini menjadi bagian dari kegiatan “Sekolah Hijau Beraksi”, yang diluncurkan sejak awal semester.
Tujuannya sederhana: menanamkan kebiasaan peduli lingkungan sejak usia dini melalui praktik nyata.
“Kami ingin anak-anak belajar langsung bagaimana limbah bisa jadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Lilis Hidayah, Kepala SD Majalengka.
Program ini kini menjadi inspirasi bagi sekolah lain di kabupaten tersebut.
Baca Juga: “BankHijau Bali Edukasi Siswa Daur Kardus Jadi Mainan Edukatif“
SD Majalengka Ajarkan Dari Sisa Kantin Jadi Pupuk Taman Sekolah
Sebelum program ini berjalan, sisa makanan dari kantin sering kali menumpuk di tempat sampah.
Kini, semua sisa sayur, daun, dan kulit buah dikumpulkan di “Bank Limbah Sekolah.”
Setiap kelas memiliki jadwal bergiliran untuk memilah sampah organik dan nonorganik.
Proses pembuatan kompos dilakukan di area terbuka menggunakan komposter sederhana dari ember plastik bekas cat.
Anak-anak diberi tugas untuk mengaduk, memberi air, dan menutup wadah setiap dua hari sekali.
“Awalnya mereka jijik, tapi setelah melihat hasilnya jadi tanah subur, semua semangat,” kata Rina Pratami, guru IPA yang menginisiasi program ini.
Hasil kompos dipakai untuk pupuk tanaman di taman sekolah, terutama di kebun mini berisi cabai, tomat, dan kangkung.
SD Majalengka Ajarkan Proses Belajar yang Menyenangkan
Kegiatan pengolahan limbah kini menjadi bagian dari pembelajaran tematik IPA dan PKN.
Guru menggabungkan teori dengan praktik di lapangan agar siswa tidak bosan.
Setiap minggu, murid kelas empat hingga enam melakukan kegiatan berikut:
- Mengumpulkan dan menimbang sampah organik.
- Mencatat suhu kompos dalam buku pengamatan.
- Mengamati perubahan warna dan aroma selama proses fermentasi.
- Membandingkan hasil kompos buatan sendiri dengan pupuk pabrikan.
“Belajar jadi lebih seru karena mereka merasa seperti ilmuwan kecil,” ujar Rina sambil tersenyum.
Pendekatan ini membuat murid lebih memahami daur ulang alami dan tanggung jawab mereka terhadap lingkungan.
SD Majalengka Dapat Dukungan dari Komite dan Orangtua
Keberhasilan program ini tak lepas dari peran komite sekolah dan orangtua murid.
Mereka membantu menyediakan alat seperti sarung tangan, sekop kecil, dan ember tambahan.
Sebagian juga menyumbangkan sisa daun dan sampah dapur dari rumah untuk bahan kompos.
“Anak saya jadi suka berkebun di rumah. Sekarang dia malah bikin kompos sendiri,” kata Dewi Kartika, salah satu wali murid.
Selain itu, orangtua dilibatkan dalam kelas lingkungan bulanan yang mengajarkan cara mengelola sampah rumah tangga.
Langkah kecil ini membuat kesadaran lingkungan meluas ke keluarga.
Dampak Nyata untuk Sekolah dan Alam
Setelah enam bulan berjalan, SD Majalengka mulai merasakan manfaat besar.
Volume sampah harian berkurang hampir 60%, dan halaman sekolah kini lebih bersih serta asri.
Tanaman di kebun sekolah tumbuh lebih subur dengan kompos buatan sendiri.
Selain itu, program ini membantu sekolah menghemat biaya pemeliharaan taman karena tidak perlu membeli pupuk kimia.
Guru juga menilai murid jadi lebih disiplin dan peduli terhadap kebersihan lingkungan.
“Mereka tidak lagi buang sampah sembarangan. Bahkan saling mengingatkan kalau ada yang lupa memilah,” ujar Lilis.
Keberhasilan ini membuat Dinas Lingkungan Hidup setempat menobatkan SD Majalengka sebagai Sekolah Percontohan Ramah Lingkungan 2025.
Kolaborasi dengan Mahasiswa dan Komunitas Hijau
Program ini semakin berkembang setelah mendapat dukungan dari komunitas hijau lokal dan mahasiswa Universitas Majalengka.
Para mahasiswa membantu membuat sistem kompos cepat dengan tambahan mikroorganisme lokal (MOL) berbasis daun pisang.
“Kami ingin anak-anak belajar sains dari hal yang mereka temui setiap hari,” ujar Andi Saputra, mahasiswa biologi yang ikut mendampingi kegiatan.
Kolaborasi ini juga membuka peluang riset kecil di sekolah dasar, seperti mengukur pH tanah dan tingkat kelembapan kompos.
Kegiatan tersebut memperkenalkan murid pada sains terapan sederhana yang bisa mereka lakukan sendiri.
Langkah Menuju Sekolah Mandiri Pangan
Ke depan, SD Majalengka berencana memperluas program menjadi “Sekolah Mandiri Pangan.”
Selain membuat kompos, murid akan diajak menanam sayuran dan buah di lahan sekitar sekolah.
Panennya akan digunakan untuk kegiatan masak bersama atau dijual di Pasar Mini Hijau karya siswa.
“Kami ingin anak-anak belajar nilai kerja keras, kemandirian, dan tanggung jawab lingkungan,” jelas Lilis.
Sekolah juga tengah mempersiapkan lomba antarkelas bertajuk “Kelas Paling Hijau” untuk menumbuhkan semangat kompetitif yang positif.
Refleksi – Dari Limbah Jadi Pelajaran Hidup
Program olah kompos SD Majalengka bukan sekadar aktivitas daur ulang, tapi bentuk pendidikan karakter.
Anak-anak belajar bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari hal kecil, bahkan dari sisa makan siang mereka sendiri.
“Kami ingin mereka tumbuh jadi generasi yang peka terhadap alam dan kebersihan,” ujar Rina menutup kegiatan sore itu.
Ketika aroma tanah segar tercium dari komposter dan tawa anak-anak terdengar di taman sekolah, satu hal menjadi jelas — masa depan hijau dimulai dari ruang kelas kecil yang peduli.
Baca Juga: “NJIS Perkuat Komitmen Terhadap Kualitas Pembelajaran di Lingkungan yang Aman, Positif dan Kolaboratif“











