SD Pontianak Tanam Sayur Hidroponik Edukasi Ketahanan Pangan

SD Pontianak tanam sayur
SD Pontianak tanam sayur

batangkuis.com — Sebuah inisiatif unik dilakukan oleh SD Pontianak yang meluncurkan program edukasi ketahanan pangan melalui penanaman sayur hidroponik di halaman sekolah.
Program ini bertujuan menanamkan kesadaran sejak dini kepada siswa tentang pentingnya menanam pangan sendiri, menjaga lingkungan, dan memahami proses pertanian modern yang efisien di lahan terbatas.

Kepala sekolah Siti Maesaroh, S.Pd, menjelaskan bahwa proyek hidroponik ini menjadi bagian dari kurikulum muatan lokal berbasis lingkungan. “Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu teori ketahanan pangan, tetapi benar-benar mempraktikkannya,” ujarnya di sela kegiatan panen perdana.

Baca Juga: “SMA Kutai Kartanegara Galang Aksi Jelajah Hutan Mangrove


Sistem Hidroponik yang Ramah Anak

Kegiatan SD Pontianak ini menggunakan sistem hidroponik sederhana yang bisa dioperasikan siswa secara langsung. Model yang diterapkan adalah NFT (Nutrient Film Technique) — sistem yang menggunakan aliran air bernutrisi tanpa tanah.

Jenis Sayuran yang Ditanam

Jenis TanamanLama PanenManfaat Gizi
Sawi hijau25–30 hariKaya vitamin C dan serat
Kangkung21 hariSumber zat besi dan magnesium
Bayam merah28 hariTinggi antioksidan dan zat besi
Pakcoy35 hariKaya kalsium dan vitamin A

Siswa dibagi menjadi kelompok kecil yang bertanggung jawab atas setiap rak tanaman. Mereka belajar cara mencampur larutan nutrisi, memeriksa pH air, dan memastikan sirkulasi berjalan baik.
“Kami ingin menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap tanaman seperti merawat hewan peliharaan,” ujar guru IPA, Pak Riyan Aditya.


SD Pontianak Belajar Sains dan Tanggung Jawab Sosial

Selain aspek pertanian, program SD Pontianak ini juga menjadi media belajar lintas bidang. Guru sains mengaitkan proyek hidroponik dengan pelajaran fotosintesis, sedangkan guru matematika membantu siswa menghitung pertumbuhan dan hasil panen.

Nilai Edukasi yang Diperoleh Siswa

  • Sains terapan: memahami proses penyerapan nutrisi tanaman tanpa tanah.
  • Ekonomi mikro: siswa belajar menghitung biaya produksi dan hasil panen.
  • Kepedulian sosial: hasil panen sebagian dibagikan ke warga sekitar sekolah.
  • Kreativitas lingkungan: siswa membuat pot dari botol bekas dan pipa daur ulang.

Kegiatan ini juga melatih kerja sama antarkelas dan mendorong rasa bangga terhadap hasil kerja mereka sendiri. Setiap kelompok diberi nama unik seperti Green Heroes, EcoFarmers, dan Little Botanists.


Dukungan Pemerintah dan Komunitas

Inovasi SD Pontianak mendapat dukungan dari Dinas Pertanian Kota Pontianak dan komunitas urban farming lokal. Mereka menyediakan pelatihan dan bibit sayuran bagi sekolah-sekolah yang ingin mengembangkan sistem serupa.

Kolaborasi Pendukung Program

  1. Dinas Pertanian Kota – menyediakan paket nutrisi hidroponik dan pelatihan teknis.
  2. Komunitas Pontianak Urban Farm – mengajarkan daur ulang alat bekas untuk rak tanaman.
  3. Bank Sampah Sekolah – menyalurkan botol plastik bekas sebagai wadah tanam.
  4. Orang tua murid – berpartisipasi dalam perawatan dan pembibitan di rumah.

Kepala Dinas Pertanian, Ir. Rendra Wijaya, menyebutkan bahwa SD Pontianak menjadi percontohan bagi sekolah lain. “Model pendidikan seperti ini adalah langkah nyata mencetak generasi muda yang paham pangan dan mandiri,” ujarnya.


Dampak Positif terhadap Siswa SD Pontianak dan Lingkungan

Sejak program hidroponik ini dimulai enam bulan lalu, SD Pontianak mencatat perubahan positif dalam perilaku siswa. Mereka lebih disiplin, teratur, dan peduli terhadap kebersihan lingkungan.

Dampak Nyata yang Terlihat

  • Siswa datang lebih pagi untuk menyiram dan mengecek tanaman.
  • Area sekolah kini lebih hijau dan sejuk dengan tambahan 200 tanaman sayur.
  • Hasil panen pertama mencapai 12 kilogram sayuran segar, sebagian dijual untuk kas sekolah.
  • Orang tua mulai meniru sistem hidroponik di rumah karena mudah dan efisien.

Selain itu, program ini juga membantu sekolah mengurangi limbah plastik dengan memanfaatkan botol bekas air mineral untuk sistem tanam vertikal.


Tantangan dan Rencana Ke Depan

Walaupun sukses, SD Pontianak menghadapi beberapa kendala, terutama dalam perawatan sistem di musim hujan dan biaya perawatan pompa air. Namun pihak sekolah berencana mengatasinya melalui program kolaborasi lanjutan.

Strategi Pengembangan 2025

  1. Menambah rak hidroponik untuk tanaman buah seperti tomat dan stroberi mini.
  2. Mengadakan lomba antar-kelas bertema “Sekolah Hijau Berpangan Mandiri.”
  3. Membuat kanal YouTube edukasi yang menampilkan tips hidroponik untuk anak-anak.
  4. Membangun greenhouse kecil agar kegiatan bisa berjalan sepanjang tahun.

“Kami ingin menjadikan proyek ini sebagai bagian identitas sekolah, agar siswa SD Pontianak dikenal sebagai generasi hijau yang peduli ketahanan pangan,” tutur Kepala Sekolah Siti Maesaroh.


Kesimpulan: Sekolah Hijau, Generasi Mandiri

Program SD Pontianak dalam menanam sayur hidroponik adalah contoh nyata pendidikan berbasis aksi. Dengan pendekatan praktis, anak-anak belajar bahwa menjaga ketahanan pangan bisa dimulai dari halaman sekolah sendiri.

Langkah kecil ini memperlihatkan bagaimana inovasi sederhana mampu membentuk kebiasaan besar — mencintai alam, menghargai pangan, dan hidup berkelanjutan.
“Menanam bukan sekadar kegiatan biologi, tapi latihan mencintai kehidupan,” kata Riyan Aditya menutup sesi panen.

Baca Juga: “Susahnya Membereskan Sengkarut Izin Tambang Pulau Kecil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak