SD Ternate Edukasi Siswa Soal Limbah Elektronik Kelas Kreatif

SD Ternate Edukasi Siswa
SD Ternate Edukasi Siswa

batangkuis.com — Di tengah meningkatnya tumpukan sampah elektronik di rumah tangga, SD Ternate mengambil langkah inovatif. Sekolah ini membuka kelas kreatif bertema limbah elektronik, di mana para siswa belajar memahami bahaya e-waste sekaligus mengubahnya menjadi karya bermanfaat.

Kegiatan ini diinisiasi oleh guru IPA dan seni budaya yang prihatin melihat banyak gawai rusak dibuang sembarangan.
Daripada menumpuk di tempat sampah, limbah seperti kabel, baterai, dan papan sirkuit justru dijadikan alat peraga dan karya seni edukatif.

“Anak-anak sekarang dekat dengan teknologi. Jadi penting bagi mereka tahu bahwa gadget juga punya sisi tanggung jawab,” ujar Rahma Hidayah, guru pembimbing kegiatan tersebut.

Baca Juga: “ZeroWaste Bima Galakkan Tantangan “7 Hari Tanpa Plastik”


SD Ternate Edukasi Mengenal Bahaya Limbah Elektronik

Melalui pendekatan interaktif, siswa diperkenalkan pada konsep dasar limbah elektronik (e-waste) — sisa perangkat elektronik seperti ponsel, charger, dan laptop yang sudah tidak terpakai.
Guru menjelaskan bahwa komponen di dalamnya mengandung logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium, yang berbahaya bagi lingkungan bila tidak dikelola dengan benar.

Beberapa fakta yang disampaikan dalam kelas:

  • ♻️ Setiap tahun, Indonesia menghasilkan lebih dari 2 juta ton limbah elektronik.
  • 🔋 Hanya 10% yang didaur ulang secara aman.
  • 💻 Sebagian besar berasal dari perangkat rumah tangga dan sekolah.

“Baterai kecil pun bisa mencemari air jika dibuang sembarangan. Itulah sebabnya kami ajak siswa melihat langsung prosesnya,” jelas Rahma.

Siswa diajak membongkar peralatan rusak di bawah pengawasan guru.
Mereka belajar mengenali bentuk logam, plastik, dan kabel tembaga yang bisa digunakan kembali.


SD Ternate Edukasi Kelas Kreatif: Dari Limbah Jadi Karya

Bagian paling menarik dari program ini adalah sesi “Create from Waste”, di mana siswa membuat karya seni atau alat belajar dari komponen elektronik bekas.
Beberapa hasil karya yang muncul justru mengejutkan: jam meja dari CD bekas, robot mini dari keyboard rusak, hingga maket rumah dengan lampu LED dari charger lama.

“Kami tidak hanya mendaur ulang, tapi juga berimajinasi,” ujar Rafi, siswa kelas 5 yang membuat miniatur pesawat dari kipas bekas laptop.

Guru seni, Asep Gunawan, menilai kegiatan ini bukan sekadar keterampilan tangan, tetapi juga latihan berpikir kreatif dan kolaboratif.
Siswa bekerja dalam kelompok kecil, berdiskusi bagaimana cara memanfaatkan benda yang dianggap tidak berguna.

Nilai Edukasi di Balik Kreasi

Setiap proyek diakhiri dengan sesi refleksi, di mana siswa mempresentasikan hasil karyanya.
Mereka menjelaskan bahan yang digunakan, fungsi baru yang diciptakan, serta pesan lingkungan di baliknya.
Pendekatan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan teknologi.

“Ketika anak-anak tahu mereka bisa memberi kehidupan kedua pada benda bekas, muncul rasa bangga dan empati terhadap bumi,” kata Asep.

Kelas ini juga memberi dampak sosial. Beberapa karya dipamerkan di aula sekolah dan dijual dalam “Bazaar Hijau Sekolah” untuk menggalang dana kebersihan lingkungan.
Dana hasil penjualan digunakan membeli tong sampah terpilah dan tanaman hias untuk taman sekolah.


Kolaborasi Sekolah, Orangtua, dan Komunitas

Keberhasilan program tidak lepas dari dukungan komunitas lingkungan “Hijau Ternate” serta partisipasi orangtua.
Setiap minggu, keluarga siswa diminta membawa satu benda elektronik rusak dari rumah untuk dijadikan bahan belajar.
Hasilnya, kesadaran lingkungan meluas hingga ke rumah tangga.

“Awalnya kami pikir cuma kegiatan seni biasa. Tapi setelah ikut, saya jadi tahu cara menyortir kabel, baterai, dan charger bekas,” ungkap Halimah, salah satu orangtua siswa.

Komunitas “Hijau Ternate” juga membantu menyediakan pelatihan tentang pengelolaan limbah elektronik aman bagi guru.
Pelatihan ini menekankan pentingnya mengenali komponen beracun, prosedur daur ulang, dan cara pembuangan yang benar.


Inovasi Pembelajaran Ramah Lingkungan

Program edukasi limbah elektronik SD Ternate menjadi bagian dari Gerakan Sekolah Hijau Nasional.
Sekolah ini kini dikenal sebagai salah satu pionir pendidikan ekoteknologi di wilayah timur Indonesia.

Kegiatan tidak berhenti di ruang kelas. Siswa juga melakukan kampanye mini bertajuk “Save Our Gadget, Save Our Earth.”
Mereka membuat poster edukatif, video pendek, dan infografik tentang daur ulang e-waste yang dipajang di area publik sekolah.

“Anak-anak zaman sekarang cepat belajar lewat visual. Jadi kami dorong mereka membuat pesan lingkungan lewat media digital,” ujar Rahma.

Selain itu, beberapa sekolah lain di Ternate mulai meniru konsep serupa.
Dinas Pendidikan setempat berencana memperluas program ini agar masuk ke kurikulum tematik tingkat dasar.


Masa Depan Hijau Dimulai dari Sekolah

Edukasi tentang limbah elektronik bukan hanya soal pengelolaan sampah, tapi juga soal membentuk pola pikir baru generasi muda.
Anak-anak SD Ternate kini tumbuh dengan kesadaran bahwa setiap gawai memiliki siklus hidup, dan tanggung jawab pengguna tidak berhenti saat perangkat rusak.

Kegiatan sederhana ini telah menumbuhkan ekoliterasi — kemampuan memahami hubungan antara teknologi dan lingkungan.
Sebuah langkah kecil dari ruang kelas, tapi berdampak besar bagi masa depan kota yang lebih bersih dan berkelanjutan.

“Kami tidak bisa menghentikan kemajuan teknologi, tapi kami bisa menciptakan generasi yang lebih bijak dalam menggunakannya,” tutup Rahma.

Baca Juga: “Uroe Peukan Tampilkan Kreativitas Perempuan Aceh, dari Hasil Hutan Bukan Kayu hingga Produk Ramah Lingkungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo mpoturbo pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak