SMA Kutai Kartanegara Galang Aksi Jelajah Hutan Mangrove

SMA Kutai Kartanegara Galang
SMA Kutai Kartanegara Galang

batangkuis.com – Di pagi yang cerah, ratusan siswa SMA Kutai Kartanegara tampak berbaris di tepi muara Sungai Mahakam. Mereka bersiap memulai kegiatan “Jelajah Hutan Mangrove”, aksi kolaboratif yang menggabungkan kegiatan belajar, eksplorasi alam, dan konservasi lingkungan.

Program ini diinisiasi oleh pihak sekolah bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Kartanegara, bertujuan menumbuhkan kepedulian terhadap ekosistem mangrove di kawasan pesisir.

“Kami ingin siswa mengenal fungsi hutan mangrove bukan hanya dari buku, tapi langsung dari alam,” ujar Novi Andriani, Kepala SMA Kutai Kartanegara.

Aksi ini menjadi bagian dari Gerakan Sekolah Hijau yang sejak awal tahun telah aktif di 30 sekolah di Kalimantan Timur.

Baca Juga: “Bank Sampah Pematangsiantar Buka Pelatihan Kompos Rumah


SMA Kutai Kartanegara Mengenal Hutan Mangrove Lebih Dekat

Jelajah dimulai dari dermaga kecil menuju kawasan konservasi mangrove di Desa Sepatin.
Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing dipandu oleh relawan dari komunitas Mahakam Green Movement.

Selama perjalanan, para pemandu menjelaskan beragam spesies pohon mangrove yang tumbuh di kawasan ini, di antaranya:

  • Rhizophora apiculata (bakau merah), penahan abrasi pantai.
  • Avicennia marina (api-api), penyaring garam alami.
  • Sonneratia alba (perepat), rumah bagi ikan kecil dan kepiting.

“Banyak siswa baru tahu kalau mangrove bukan cuma pohon biasa, tapi penjaga garis pantai,” tutur Dian Putra, siswa kelas XI IPA.

Selain mengenal vegetasi, siswa juga diajak mengukur kadar salinitas air, mengamati kepadatan tanah, dan mencatat kondisi akar napas mangrove yang unik.


Edukasi SMA Kutai Kartanegara di Lapangan: Belajar dari Alam

Bagian paling menarik dari kegiatan ini adalah sesi edukasi lapangan, di mana guru biologi menggabungkan kurikulum sekolah dengan eksplorasi langsung.

Setiap kelompok diberi lembar observasi untuk mencatat:

  1. Jenis flora dan fauna yang ditemukan.
  2. Kondisi air, lumpur, dan suhu lingkungan.
  3. Dampak aktivitas manusia terhadap area mangrove.

“Pembelajaran seperti ini membuat anak-anak lebih kritis dan peka,” jelas Agus Setiawan, guru biologi yang mendampingi kegiatan.
“Mereka bisa melihat bagaimana ekosistem bekerja secara nyata.”

Para siswa juga menemukan fakta menarik: akar mangrove tidak hanya menyerap air laut, tetapi juga menyaring logam berat dan menjaga kualitas air di muara sungai.


Aksi Nyata Penanaman Bibit

Setelah sesi observasi, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman 500 bibit mangrove di area yang mengalami abrasi.
Siswa bergiliran menanam bibit sambil menuliskan nama mereka di papan kecil sebagai tanda komitmen menjaga lingkungan.

“Rasanya bangga bisa menanam sesuatu yang bermanfaat untuk masa depan,” ujar Tania (17), salah satu peserta.

Program penanaman ini tidak hanya simbolik. Setiap tiga bulan, siswa akan kembali melakukan monitoring pertumbuhan bibit yang mereka tanam.
Sekolah juga bekerja sama dengan warga sekitar untuk menjaga area tersebut agar tidak rusak akibat sampah atau aktivitas tambak liar.


Mengintegrasikan Teknologi dan Konservasi

Sebagai bagian dari pembelajaran abad ke-21, SMA Kutai Kartanegara menggabungkan pendidikan lingkungan dengan teknologi digital.
Siswa menggunakan aplikasi EcoMap.id untuk mencatat data lokasi penanaman, jenis tanaman, serta kondisi ekosistem.

“Melalui teknologi, kami bisa memantau pertumbuhan mangrove secara berkelanjutan,” ujar guru informatika, Rudiansyah.

Data yang dikumpulkan nantinya dikirim ke DLH Kutai Kartanegara sebagai bahan pemantauan nasional dalam proyek Digital Green Indonesia.

Selain itu, beberapa siswa juga membuat video dokumenter pendek berjudul Akar yang Menjaga Dunia, yang akan diunggah di kanal YouTube sekolah sebagai sarana kampanye lingkungan.


Mengajak Komunitas untuk Terlibat

Program “Jelajah Hutan Mangrove” tidak hanya melibatkan siswa dan guru, tetapi juga masyarakat pesisir.
Kelompok nelayan lokal ikut berbagi pengalaman tentang bagaimana mangrove membantu menjaga populasi ikan dan udang di sekitar muara.

“Tanpa mangrove, ikan susah berkembang biak, dan hasil tangkapan kami berkurang,” ujar Pak Sarman, nelayan setempat.

Sekolah berencana menjadikan kegiatan ini agenda tahunan dan memperluas kolaborasi dengan universitas di Samarinda untuk riset konservasi.

Kegiatan ini diakhiri dengan deklamasi puisi bertema “Suara dari Akar”, dibacakan oleh perwakilan OSIS sebagai bentuk refleksi atas pentingnya menjaga bumi.


Refleksi: Dari Siswa untuk Alam

Aksi jelajah hutan mangrove di Kutai Kartanegara membuktikan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus dilakukan di kelas.
Melalui langkah kecil, siswa belajar langsung tentang ekologi, sains, dan nilai tanggung jawab terhadap alam.

“Kami ingin anak-anak menjadi generasi yang tidak hanya pintar, tapi juga peduli,” tutup Novi.

Kini, area pesisir yang dulu sepi mulai berubah menjadi ruang belajar terbuka yang hidup.
Setiap akar yang ditanam adalah simbol harapan — bahwa masa depan bumi akan tetap hijau jika dijaga dengan pengetahuan dan cinta.

Baca Juga: “Pipa KRAH Jadi Solusi Jangka Panjang Pipa yang Ramah Lingkungan Kuat dan Ekonomis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak