Universitas Gorontalo Gelar Kuliah Lapangan di Hutan Konservasi

Universitas Gorontalo Gelar
Universitas Gorontalo Gelar

batangkuis.com — Sebagai bagian dari program pendidikan berbasis ekologi, Universitas Gorontalo melaksanakan kuliah lapangan di kawasan Hutan Konservasi Tangale, Kabupaten Gorontalo.
Kegiatan ini diikuti lebih dari 120 mahasiswa dari jurusan Biologi, Kehutanan, dan Pendidikan Lingkungan yang belajar langsung dari alam tentang keanekaragaman hayati serta pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.

Di tengah hamparan pepohonan tropis, mahasiswa terlihat antusias:

  • Membawa buku catatan lapangan dan alat ukur suhu serta kelembapan.
  • Mengenakan sepatu bot dan perlengkapan penelitian hutan.
  • Berinteraksi langsung dengan dosen dan peneliti dari BKSDA Sulawesi.

“Kami ingin mahasiswa melihat, menyentuh, dan merasakan langsung bagaimana ekosistem bekerja — bukan hanya mempelajarinya di ruang kelas,” ujar Dr. Yuliana Tandayu, Dekan Fakultas Sains Universitas Gorontalo.

Melalui pengalaman lapangan ini, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman lebih mendalam tentang pentingnya konservasi dan dapat menjadi agen perubahan dalam pelestarian lingkungan hidup di masa depan.

Baca Juga: “MindFresh Palu Panjang Kenalkan Rutinitas Meditasi Alam Harian


Universitas Gorontalo Ubah Hutan Sebagai Laboratorium Hidup

Kuliah lapangan ini bertujuan mengubah cara belajar mahasiswa — dari teori menjadi praktik langsung.
Hutan Tangale dipilih karena memiliki keanekaragaman hayati tinggi dengan lebih dari 250 spesies tumbuhan endemik, 70 jenis burung, serta berbagai mamalia khas Sulawesi seperti anoa dan kuskus.

Mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk melakukan pengamatan:

  • 🌿 Kelompok flora: mengidentifikasi spesies pohon, tumbuhan obat, dan tingkat regenerasi tanaman muda.
  • 🐾 Kelompok fauna: merekam aktivitas hewan dengan kamera jebak dan mengamati pola perilaku burung.
  • 💧 Kelompok lingkungan: mengukur kualitas air sungai dan tingkat pencemaran mikroplastik.

“Lapangan adalah guru terbaik. Di sini mahasiswa bisa memahami bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan,” jelas Dr. Yuliana.

Hasil pengamatan akan menjadi bahan penelitian mini dan laporan akhir mata kuliah ekologi serta konservasi hayati.


Universitas Gorontalo Berikan Edukasi Ekologi Berbasis Pengalaman

Pendekatan lapangan seperti ini menjadi bagian dari kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Universitas Gorontalo.
Mahasiswa tak hanya menulis laporan ilmiah, tetapi juga membuat video dokumenter singkat dan poster edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar.

“Kami ingin ilmu tidak berhenti di kampus. Mahasiswa harus jadi jembatan pengetahuan bagi warga,” kata Prof. Hasan Abas, Wakil Rektor Bidang Akademik.

Selain itu, kegiatan ini juga melatih mahasiswa untuk beradaptasi di lingkungan alam terbuka: mengatur logistik, berkemah, hingga berkomunikasi dengan masyarakat desa konservasi.

Selama tiga hari, mereka tidur di tenda dan bergantian menjaga pos pengamatan malam hari.
Kegiatan ini memperkuat empati dan kesadaran ekologis — dua hal yang kini menjadi fondasi penting dalam pendidikan sains modern.


Universitas Gorontalo Kolaborasi dengan Komunitas Hutan dan Peneliti

Program kuliah lapangan ini melibatkan Komunitas Hutan Tangale Lestari yang selama ini aktif menjaga kawasan dari aktivitas perambahan liar.
Mahasiswa diajak berdialog langsung dengan para penjaga hutan lokal untuk memahami bagaimana tradisi dan pengetahuan masyarakat turut berperan dalam konservasi.

“Kami hidup dari hutan, jadi kami juga harus menjaganya,” ujar Ranto Mopangga, anggota komunitas yang menjadi mentor lapangan.

Selain itu, tim Universitas Gorontalo juga bekerja sama dengan peneliti biodiversitas dari Universitas Sam Ratulangi dan LIPI Gorontalo dalam mengidentifikasi jenis lumut dan jamur endemik yang belum banyak terdokumentasi.

Kolaborasi lintas kampus ini membuka peluang riset bersama tentang perubahan mikroklimat dan peran vegetasi dalam penyerapan karbon di hutan tropis Sulawesi.


Mahasiswa Belajar Nilai Kearifan Lokal

Salah satu sesi menarik dalam kegiatan ini adalah “Dialog Budaya dan Alam”, di mana mahasiswa belajar bagaimana masyarakat adat menjaga hutan tanpa teknologi modern.
Penduduk lokal menggunakan sistem tanam bergilir dan ritual tahunan Molamahu sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.

“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa ilmu pengetahuan modern dan kearifan lokal bisa berjalan berdampingan,” ujar Dr. Yuliana.

Bahkan, beberapa mahasiswa membuat catatan etnografi singkat tentang kepercayaan masyarakat terhadap pohon-pohon sakral yang tidak boleh ditebang, sebagai simbol keseimbangan alam.


Dampak Positif bagi Kampus dan Lingkungan

Kegiatan kuliah lapangan di Hutan Konservasi Tangale tidak hanya meningkatkan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga memperkuat komitmen kampus terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Universitas Gorontalo kini menargetkan untuk membuka Pusat Studi Konservasi dan Ekowisata Berkelanjutan pada 2026 mendatang.

“Kami ingin menjadi universitas yang menghasilkan ilmuwan yang peduli lingkungan dan beraksi nyata,” ujar Prof. Hasan Abas.

Selain itu, masyarakat sekitar juga mendapat manfaat langsung melalui pelatihan pengelolaan wisata edukatif berbasis konservasi.
Program ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara kegiatan akademik, ekonomi lokal, dan pelestarian alam.


Refleksi – Menanam Ilmu di Tanah Hutan

Kuliah lapangan Universitas Gorontalo di hutan konservasi bukan sekadar kegiatan belajar, melainkan pengalaman hidup yang menanamkan nilai keberlanjutan.
Para mahasiswa pulang membawa lebih dari sekadar data — mereka membawa kesadaran baru tentang tanggung jawab menjaga bumi.

“Hutan tidak hanya untuk diteliti, tapi untuk dijaga,” kata Rizka, salah satu peserta kuliah lapangan.

Di tengah isu perubahan iklim dan deforestasi global, langkah kecil ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, budaya, dan pelestarian alam.
Dan di Gorontalo, hutan kini bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang tumbuhnya generasi yang mencintai bumi.

Baca Juga: “Sulap Barang Bekas Berkualitas Ramah Lingkungan Jadi Cuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

pilar nyamuk jurnal auto inovasi hidup layak